Kendati Covid-19, Aktivitas Industri Sawit di Sumbar Tetap Beroperasi Normal

17
Ketua Gapki Sumbar Bambang Wiguiritno menilai, produksi dan distribusi CPO di Sumatera Barat tetap berjalan normal. Foto: Istimewa
Ketua Gapki Sumbar Bambang Wiguiritno menilai, produksi dan distribusi CPO di Sumatera Barat tetap berjalan normal. Foto: Istimewa

TROPIS.CO, JAKARTA – Pandemi Covid-19 tidak mempengaruhi kegiatan produksi dan distribusi minyak sawit di kawasan Sumatera Barat (Sumbar).

“Tidak, saya rasa tidak terlampau signifikan terhadap kegiatan produksi, kebetulan sekarang ini saya lagi di depan pabrik, antrian truk masih panjang,” kata Bambang Wiguritno, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Barat.

Truk yang sarat bermuatan buah sawit itu bukan hanya produksi perusahaan saja, melainkan itu sawit masyarakat.

“Sawit petani swadaya juga masih lancar,” ujar Bambang dalam keterangan pers melalui teleconference, Rabu (20/5/2020).

Hanya diakuinya, sejumlah perusahaan sejak merebaknya pandemi corona ini melakukan berbagai efisiensi untuk mengamankan cash flow perusahaan.

Baca juga: FJS dan Gapki Berbagi Kebahagiaan Bersama Para Anak Yatim di Bulan Ramadhan

Salah satunya adalah menunda pemupukan sementara karena cost pupuk relative dominan dari total production cost.

Disadari bahwa penundaan pemupukan ini akan berdampak pada produktivitas tanaman sawit.

Namun tidak dalam waktu segera, paling tidak satu atau dua tahun ke depan.

Perusahaan mengambil kebijakan ini, karena memang tidak ada pilihan lain agar kondisi cash flow tetap aman hingga berakhirnya pandemi Covid-19 ini.

“Manajemen perusahaan menjaga kesinambungan pekerja jauh lebih penting ketimbangan pemupukan untuk sementara ini.”

“Bagi perusahaan, bagaimana pun kondisinya, pekerja harus diselamatkan lebih awal,” tuturnya.

Saat ini di Sumatera Barat ada sekitar 500 ribu hektare areal perkebunan kelapa sawit dengan produktivitas rata-rata 4 ton CPO (crude pal oil) per hektare sertahun.

Dari areal seluas ini, sekitar 112 ribu hektare milik 19 perusahaan perkebunan sawit anggota Gapki.

Lainnya, 160 ribuan hektare milik perusahaan swasta lainnya (bukan anggota Gapki) dam separuhnya lagi kebun plasma dan  petani swadaya.

“Rata rata tanaman kelapa sawit di Sumatera Barat tergolong tanaman produktif.”

“Adapun tanaman tua sudah sejak empat tahun silam mulai di-replanting dan ini umumnya tanaman tahun 80-an, tapi kini sebagian tanaman baru itu sudah mulai berproduksi,” ungkapnya lagi.

Dalam kegiatan distribusi, diakui Bambang, hingga kini berjalan lancar, baik itu pengapalan lokal maupun ekspor.

Aktivitas muat CPO di Pelabuhan Teluk Bayur berjalan seperti biasanya walau harus diiringi dengan protokol kesehatan.

Pun halnya, untuk pengiriman melalui Pelabuhan Dumai, Riau, semua tak terkendala karena berbagai kebijakan pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19.

“Kalau di Sumatera Barat, sumber pandemi bukan dari industri, melainkan dari individu pendatang sehingga dalam setiap kegiatan bongkar muat di pelabuhan bukan suatu yang harus dikhawatirkan secara berlebihan,” jelas Bambang.

Baca juga: Amnesti Lahan Mesti Diberikan Pemerintah pada Para Petani Sawit

Soal antisipasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kalangan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Barat, khususnya di lingkungan anggota Gapki, pihak perusahaan selalu siap siaga.

Walau sebenarnya, dalam beberapa tahun terakhir, di saat banyak daerah lain harus berhadapan dengan Karhutla, namun Sumatera Barat relatif aman.

“Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, dapat dikatakan kasus Karhutla hampir tidak ada di Sumatera Barat, mungkin dikarenakan tingkat turun hujan di wilayah ini cukup merata setiap  tahunnya,” pungkas Bambang Wiguritno. (Trop 01)