Layakkah Lahan Gambut Digunakan untuk Perkebunan Kelapa Sawit?

Lahan gambut yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit secara ekologi merupakan kegiatan restorasi. Foto: Dok. Pribadi
Lahan gambut yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit secara ekologi merupakan kegiatan restorasi. Foto: Dok. Pribadi

 

TROPIS.CO, JAKARTA – Komoditas perkebunan merupakan salah satu sektor usaha pertanian yang menjadi andalan ekonomi negara Indonesia.

Komoditas perkebunan utama yang paling potensial yaitu kelapa sawit.

Menurut Kementerian Pertanian luas perkebunan kelapa sawit Indonesia tahun 2021 yaitu 15,98 juta hektare, yang terdiri atas perkebunan besar negara, swasta dan perkebunan rakyat.

Perkebunan kelapa sawit merupakan penyerap lapangan kerja sebanyak 4,42 juta pekerja dan 2,67 juta petani.

Baca juga: Astra Agro Junjung Tinggi Asas Keberlanjutan Dalam Pengembangan Industri Sawit

Oleh karena itu aspek keberlanjutan kelapa sawit merupakan faktor yang penting diperhatikan oleh pemerintah, perusahaan, dan petani.

Pengusahaan kelapa sawit sangat bergantung pada ketersediaan lahan baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Jumlah lahan sudah sulit bertambah karena ada keterbatasan untuk penggunaan produksi dan lahan-lahan subur yang produktif pun sudah tidak tersedia sehingga pengusahaan kelapa sawit memanfaatkan lahan marginal, salah satunya yaitu lahan gambut.

Lahan gambut memiliki karakteristik yang “unik”, apabila digunakan untuk produksi perkebunan harus memenuhi kaidah lestari demi menjaga kualitas lahan dan keberlanjutannya.

Baca juga: Lantaran Tidak Efektif , Hapus Keharusan DMO dan DPO

Menurut Permentan Nomor 14 Tahun 2009, gambut merupakan tanah hasil akumulasi timbunan bahan organik dengan komposisi lebih dari 65 persen yang terbentuk secara alami dalam jangka waktu ratusan tahun dari lapukan vegetasi yang tumbuh di atasnya yang terhambat proses dekomposisinya karena suasana basah.

Setiap lahan gambut mempunyai karakteristik yang berbeda tergantung dari sifat-sifat dari badan alami yang terdiri dari atas sifat fisika, kimia, dan biologi serta macam sedimen di bawahnya, yang akan menentukan daya dukung wilayah gambut, menyangkut kapasitasnya sebagai media tumbuh, habitat biota, keanekaragaman hayati, dan hidrotopografi.