Petani akan Diberi Insentif untuk Melakukan Tanam Pascapanen Raya

13
ara petani nanti bisa mendapatkan semacam insentif untuk melakukan tanam di musim pasca panen raya ini. Foto: ANTARA
Para petani nanti bisa mendapatkan semacam insentif untuk melakukan tanam di musim pasca panen raya ini. Foto: ANTARA

TROPIS.CO, JAKARTA – Pemerintah memperhatikan nilai tukar petani dan sedang dipersiapkan untuk stimulus kepada para petani berupa insentif untuk melakukan tanam di musim pascapanen raya ini

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai mengikuti Rapat Terbatas di Jakarta, Selasa (21/4/2020).

“Hal ini sedang dalam pembahasan, agar para petani nanti bisa mendapatkan semacam insentif untuk melakukan tanam di musim pasca panen raya ini,” ucap Menteri Airlangga.

Terkait dengan beras, ia menyatakan bahwa pemerintah terutama Kementerian Pertanian juga memonitor ada 168 ribu rice mill, yang tentunya diharapkan dari rice mill ini bisa diserap selain oleh Bulog, oleh para distributor.

Baca juga: APHI Berikan Donasi untuk Mendukung Penanganan Covid-19

“Kemudian yang terkait dengan kebijakan di sektor pangan, memang ada beberapa hal yang sedang dipersiapkan, nanti pada waktunya Menteri Pertanian akan menyampaikan kebijakan-kebijakan yang akan disampaikan,” tuturnya.

Termasuk memperbaiki infrastruktur pertanian terutama terkait dengan pipanisasi, drainase, irigasi, dan pengembangan lebih banyak lagi embung untuk memanfaatkan curah hujan yang ada.

Dia juga menyampaikan bahwa kebijakan terkait dengan gula memang terjadi pengalihan dari gula pabrik untuk makanan minuman ke pasar domestik.

“Namun ini karena memerlukan proses baik dari (izin produksi, red) maupun izin edarnya ini sedang berproses dan dalam waktu dekat ini akan masuk ke pasar,” ungkap Menko Perekonomian terkait dengan impor yang baru masuk nanti di awal Mei.

Harapannya sebagian di bulan April ini diisi dari produksi di dalam negeri, dari gula rafinasi yang dimasukkan menjadi operasi untuk di dalam negeri.

“Kemudian tentunya yang terkait dengan dengan bawang putih ini juga barangnya bakal masuk sehingga tentu akan diharapkan dengan barangnya masuk nanti harga sudah bisa turun ke bawah,” kata Menko Perekonomian.

Soal pertanyaan yang menyimpang terkait dengan harga minyak, Menko Perekonomian sampaikan memang kemarin terjadi sesuatu yang luar biasa dimana harga West Texas (West Texas Intermediate/WTI) ini turun di bawah minus 36 dan ini terjadi sekejap, karena memang tanggal 21 ini adalah batas untuk delivery future market dari minyak.

Baca juga: Guna Percepatan Penanganan Covid-19, Kementerian PUPR Alokasikan Dana Rp 44,58 Triliun

“Sedangkan kaitan dengan Indonesia, Indonesia basis harganya ada MOPS (Mean Oil Platts Singapore) bukan WTI, sehingga MOPS itu basisnya adalah Brent.”

“Dengan demikian ini memang pasti akan memberikan tekanan tetapi kita ketahui bersama dengan lockdown, kebutuhan minyak dunia turun 25-29 juta barel oil per day,” ungkap Menko Airlangga.

Dia juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat menjadi produsen besar 300 juta barel oil per day dan rencana mau dipotong 2 juta.

“Namun pemotongan OPEC yang 10 juta barel oil per day itu diperkirakan belum cukup untuk menyerap demand shock akibat daripada Covid-19 ini.”

“Tentu bagi Indonesia kita memonitor karena ini terkait juga dengan kebijakan biodiesel 30 (B30),” pungkasnya. (*)