Kaukus Hijau DPR RI Dorong Investasi Energi Terbarukan

51
Ketua Kaukus Ekonomi Hijau DPR Satya Widya Yudha menyatakan, Pemerintah mesti lebih agresif untuk mengimplementasikan EBT dan juga konservasi energi melalui program-program strategis. Foto : migas review
Ketua Kaukus Ekonomi Hijau DPR Satya Widya Yudha menyatakan, Pemerintah mesti lebih agresif untuk mengimplementasikan EBT dan juga konservasi energi melalui program-program strategis. Foto : migas review

TROPIS.CO, JAKARTA – Kaukus Ekonomi Hijau DPR RI mendorong pemerintah lebih agresif lagi meningkatkan investasi energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai energi masa depan.

Ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil yang masih besar saat ini harus mulai dikurangi dengan mendorong pengembangan EBT sebagai energi masa depan yang lebih bersih dan menjanjikan.

Hal itu disampaikan Ketua Kaukus Ekonomi Hijau DPR Satya Widya Yudha saat berbicara dalam panel Civil Society Policy Forum pada Annual Meetings IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018).

“Pemerintah mesti lebih agresif untuk mengimplementasikan EBT dan juga konservasi energi melalui program-program strategis,” tutur Satya yang mengangkat topik Transitioning from Fossil Fuels to Low-Carbon Economies: Carbon Finance for Low-Carbon Action seperti disampaikan dalam siaran persnya.

Pembicara lain yang juga tampil dalam forum tersebut adalah Ketua Badan Anggaran DPR Aziz Syamsuddin, Jianpeng Wang dari Global China Research Foundation, Meenakshi Lekhi dari India, Guoqing Shi dari Hohai University, dan Yaxiong Cho dari Wuhan University.

“Kita harus realistis, saat ini, energi baru dan terbarukan merupakan kebutuhan yang mendesak dan signifikan. Kita harus mendorong investasi besar-besaran di sektor energi baru dan terbarukan ini untuk masa depan yang menjanjikan,” ungkap Satya, yang juga Wakil Ketua Komisi I DPR.

Anggota parlemen dari Partai Golkar tersebut menambahkan dalam rangka merealisasikan agenda sustainable development goals (SDGs) nomor tujuh yakni renewable energy dan 13 yaitu climate change, perlu menjadikan energi bersih sebagai basis ekonomi.

Hal ini harus diadopsi dalam setiap program-program strategis oleh pemerintah.

“Apabila, energi fosil masih diperjualbelikan, butuh ditambahkan externality cost serta carbon tax agar EBTKE bisa jalan sesuai yang kita harapkan,” tutur Satya.

Indonesia, hingga saat ini, masih mengandalkan energi bahan bakar fosil sebagai penopang ekonomi.

Padahal, energi fosil diperkirakan akan habis dalam kurun waktu tertentu.

Energi bahan bakar fosil yang menjadi konsumsi utama masyarakat adalah minyak bumi, gas alam, dan batubara.

“Saat ini, bauran energi primer yang berbasis energi baru dan terbarukan kurang lebih hanya delapan persen. Ini sangat minim sekali.”

“Di sisi lain, konsumsi energi primer kita semakin meningkat. Karena itu, DPR selalu mengingatkan kepada pemerintah untuk konsisten meningkatkan bauran energi primer yang berbasis energi baru dan terbarukan sebagai energi masa depan,” pungkas Satya. (*)