Besar Rasa Ingin Tahu Mahasiswa Soal Biodiesel

8
Direktur PT Astra Agro Lestari Hadi Sugeng mengungkapkan isu-isu yang terjadi di komoditas kelapa sawit adalah tidak sepenuhnya benar. Foto : Astra Agro
Direktur PT Astra Agro Lestari Hadi Sugeng mengungkapkan isu-isu yang terjadi di komoditas kelapa sawit adalah tidak sepenuhnya benar. Foto : Astra Agro

TROPIS.CO, MALANG – Mahasiswa di Kota Malang sangat antusias berdiskusi dan menggali informasi seputar energi baru dan terbarukan berbahan baku sawit.

Antusiasme mahasiswa tampak dalam seminar di Universitas Brawijaya Malang.

Dalam seminar yang mengangkat isu “Potensi Sumber Daya Pertanian Dalam Upaya Pengembangan Teknologi dan Energi Terbarukan” tersebut, sedikitnya 300 mahasiswa menjadi peserta.

“Berbicara mengenai energi tidak akan pernah habis. Perkembangan energi dunia yang dinamis, sementara keterbatasan cadangan energi fosil terus menurun, meningkatkan perhatian masyarakat dunia kepada energi terbarukan” ungkap Rizki Pratama (21), mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya.

Rizki melanjutkan banyak sektor pertanian penghasil biomassa memiliki potensi tinggi  untuk menjadi energi terbarukan, namun tidak semua komoditas siap menjadi energi terbarukan.

Dengan bergulirnya isu keberlanjutan, sawit merupakan salah satu komoditas yang pantas sebagai pengganti energi fosil.

Selain mampu menyerap karbondioksida dan energi matahari yang disimpan dalam bentuk energi kimia (minyak kelapa sawit), komoditas kelapa sawit dinilai berkesinambungan karena mampu memproduksi selama lebih dari 25 tahun.

Hadi Sugeng, Direktur PT Astra Agro Lestari, sebagai pembicara di seminar ini mengungkapkan kekagumannya terhadap peserta acara  karena telah mengakui bahwa isu-isu yang terjadi di komoditas kelapa sawit adalah tidak sepenuhnya benar.

“Saya tidak perlu repot-repot lagi memberikan pembuktian, ternyata rata-rata sudah paham isu sehingga saya hanya menunjukkan evident saja” ungkapnya.

Dengan pengembangan industri sawit yang terus dilakukan, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah kurangnya daya saing. ”

Jika dibandingkan dengan Malaysia, produksi kelapa sawit di Indonesia masih memakan biaya produksi 34 persen lebih tinggi, sedangkan produktivitas tanaman juga masih ada loss sekitar 44 persen,” ucap Hadi Sugeng.

Merespon pertanyaan mahasiswa tentang implementasi B100, Hadi Sugeng juga menjelaskan perlunya teknologi mutakhir yang saat ini masih dikembangkan oleh pengusaha.

Selain itu, dukungan pemerintah juga diperlukan untuk mengawal implementasinya sehingga tetap menguntungkan bagi perusahaan karena harga CPO relatif tinggi. (*)