Minggu, 26 Maret 2023

Produksi Jagung Nasional Surplus pada Tahun 2018

REKOMENDASI

TROPIS.CO, JAKARTA – Kementerian Pertanian menegaskan bahwa produksi jagung nasional akan mengalami surplus pada 2018 dengan perhitungan perkiraan produksi dikurangi dengan proyeksi kebutuhan jagung nasional.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Sumarjo Gatot Irianto melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (27/9/2018), mengatakan bahwa surplus itu sekaligus menepis anggapan bahwa harga pakan ternak yang naik belakangan ini diakibatkan oleh melesetnya data produksi.

Berdasarkan hitungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, produksi jagung dalam lima tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49 persen per tahun.

Itu artinya, tahun 2018 produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK).

Hal ini juga didukung oleh data luas panen per tahun yang rata-rata meningkat 11,06 persen, dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42 persen (ARAM I, BPS 2018).

Sementara dari sisi kebutuhan, berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15,5 juta ton PK, terdiri dari pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120 ribu ton PK, dan industri pangan 4,76 juta ton PK.

“Artinya kita masih surplus sebesar 12,98 juta ton PK, dan bahkan Indonesia telah ekspor jagung ke Filipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton,” kata Sumarjo Gatot Irianto.

Gatot juga menyatakan bahwa secara umum produksi jagung nasional saat ini sangat baik. Di wilayah Indonesia Barat panen terjadi pada Januari-Maret, mencakup 37 persen dari produksi nasional.

Sementara itu, ke wilayah Indonesia Timur, panen cenderung mulai bulan April-Mei.

Sentra produksi jagung tersebar yang di 10 Provinsi yakni, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatra Utara, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sumatra Barat, total produksinya sudah mencapai 24,24 juta ton PK.

“Artinya 83,8 persen produksi jagung berada di provinsi sentra tersebut berjalan dengan baik,” kata Gatot.

Gatot tak menampik bahwa pada pada musim-musim tertentu harga jagung bisa saja meningkat, tapi bukan berarti produksi dan pasokan jagung bermasalah.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang turut memengaruhi, seperti konsumen untuk jagung ini yang relatif berfokus pada lokasi tertentu saja seperti Medan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Surabaya, Sulawesi Selatan sepanjang tahun.

Terkait harga jagung untuk pakan ternak, Gatot menjelaskan bahwa bahwa kebutuhan jagung untuk pabrik pakan saat ini sebesar 50 persen dari total kebutuhan nasional sehingga sensitif terhadap gejolak.

Kendalanya yang terjadi adalah karena beberapa pabrik pakan tidak berada di sentra produksi jagung, sehingga perlu dijembatani antara sentra produksi dengan pengguna agar logistiknya murah.

Saat ini tercatat ada 93 pabrik pakan di Indonesia yang tersebar di Sumatra Utara 11 unit, Sumatra Barat satu unit, Lampung lima unit, Banten 16 unit, Jawa Barat 11 unit, DKI Jakarta enam unit, Jawa Tengah 12 unit, Jawa Timur 21 unit, Kalimantan Barat satu unit, Kalimantan Selatan dua unit, dan Sulawesi Selatan tujuh unit.

“Beberapa pabrik pakan di daerah seperti, Banten, DKI Jakarta, Kalbar dan Kalsel tidak berada di sentra produksi jagung,” tutur Gatot.

Pada 2018 Pemerintah bertekad memenuhi kebutuhan jagung sepenuhnya dari produksi dalam negeri tanpa impor jagung sama sekali. (*)

BERITA TERKAIT

BERITA TERBARU

Ads sidebar

POPULER