Gerakan Indonesia Bersih, Identitas Nasional Aksi Bersih dan Pengelolaan Sampah

14
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya meluncurkan Gerakan Indonesia Bersih. Foto : KLHK
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya meluncurkan Gerakan Indonesia Bersih. Foto : KLHK

TROPIS.CO, JAKARTA – Bertempat di panggung utama area Car Free Day Bundaran HI, dilaksanakan peluncuran Gerakan Indonesia Bersih yang dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.

Acara Gerakan Indonesia Bersih yang sekaligus menjadi identitas nasional semua kegiatan aksi bersih atau peduli sampah ini diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai pelaksana teknis hariannya.

Gerakan ini juga diluncurkan untuk pertama kalinya kepada publik sebagai bentuk ajakan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia agar setiap individu bisa bergerak bersama untuk lebih peduli mengurangi produksi sampah dan mengelola sampah harian mereka dengan baik.

“Gerakan Indonesia Bersih ini adalah gerakan kita bersama, tidak bisa kita pungkiri adalah tanggung jawab kita semua untuk menjaga Indonesia bersih.”

“Apalagi program pengelolaan sampah menjadi program pemerintah yang sangat penting yang harus dilakukan secara terpadu oleh semua pihak.”

“Selain itu yang penting adalah pengelolaan sampah harus memiliki manfaat ekonomi dan lingkungan serta harus dapat mengubah perilaku masyarakat,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dalam kata sambutannya di acara peluncuran yang digelar di area car free day, Jakarta, Minggu (28/4/2019).

Menjadi salah satu negara kepulauan terbesar, Indonesia memiliki banyak potensi sumber daya kelautan dan perikanan termasuk potensi wisata yang sudah menjadi tujuan wisata dunia.

Di sisi lain, Indonesia juga berhadapan dengan masalah sampah plastik yang sudah mencemari laut dan berdampak merusak ekosistem laut.

Melihat kondisi ini, sudah saatnya seluruh lapisan masyarakat menyadari dampak dari penggunaan plastik yang dipakai sehari-hari dan bertindak.

Sejumlah organisasi, komunitas dan individu dari berbagai kalangan yang hadir pada acara peluncuran hari ini menyadari bahwa pencemaran sampah plastik semakin tidak terkendali akibat gaya hidup masyarakat yang serba instan dan tidak bertanggung jawab.

Oleh karena itu perlu diberikan edukasi yang bermanfaat dan konsisten bagi masyarakat Indonesia, agar masyarakat lebih sadar lagi untuk peduli pada masalah sampah ini dan mau untuk mengambil langkah nyata.

“Sudah banyak program yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal penanganan masalah sampah ini, seperti menyediakan fasilitas seperti TPS 3R, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, Program Waste to Energy (PLTS), Instalasi Pengolahan Air Limbah, Sistem Pengolahan Sampah Refuse Derived Fuel atau Gerakan Industri Hijau, namun dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta jiwa ini diperlukan perubahan kebiasaan terhadap sampah,” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.

Menurutnya, peduli terhadap makanan atau barang yang dibeli, tidak hanya isinya tetapi juga bungkus atau kemasannya.

“Untuk itu saya sangat berharap bahwa kita semua selaku masyarakat Indonesia yang bertanggung jawab dapat berperan serta mengambil bagian dalam mendukung Gerakan Indonesia Bersih ini dengan menjadi contoh nyata sebagai manusia yang peduli akan kebersihan lingkungannya,” jelas Menteri Siti.

Pada kesempatan yang sama Laksmi Wijayanti, Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan bahwa budaya bersih-bersih itu sebenarnya merupakan budaya Indonesia sejak dahulu, namun dilalaikan.

Sehingga melalui Gerakan Indonesia Bersih ini diharapkan menjadi suatu gerakan yang mengingatkan Indonesia akan budaya baik yang pernah ada.

Laksmi juga menjelaskan, bahwa gerakan ini merupakan bagian dari revolusi mental, jadi bukan hanya mengurangi sampah tapi menangani atau mengelola sampah.

Menurutnya, KLHK telah memfasilitasi berbagai pemangku kepentingan untuk melakukan inisiatifnya, seperti bank sampah yang ada di masyarakat.

Gerakan ini harus dari kesadaran pemangku kepentingan.

Target secara nasional, KLHK menyasar lokasi strategis seperti pesisir laut, dimana menjadi wilayah tumpukan sampah yang mencemari bukan hanya kawasan perairan, tapi kawasan daratan yang berbatasan dengan perairan.

Sementara Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Direktorat Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian LHK Novrizal Tahar menyampaikan, “secara ideal pengelolaan sampah itu harus dilakukan secara personal, kemudian melakukan tindak lanjut, yaitu pemilahan sampah. Hal ini yang harus dibangun kesadarannya secara personal.”

Novrizal berpandangan, secara esensi, bila sampah telah dipilah sejak awal, misalnya sampah kaca, plastik, dan lain sebagainya, benda–benda ini bisa di kumpulkan untuk menjadi bahan baku.

Namun lemahnya kemampuan masyarakat dalam pemilahan, membuat seluruh bahan baku tadi tercampur, mengakibatkan usaha pemilahan yang di lakukan di tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi lebih besar.

Selain beragam aktivitas menarik ada juga aksi bersih-bersih dari para relawan dan pengunjung car free day. Peluncuran Gerakan Indonesia Bersih dihadiri oleh beragam komunitas yang peduli dengan masalah sampah di Indonesia, para relawan kebersihan, juga dihibur oleh artis ternama Titik Puspa yang menyanyikan lagu berjudul Sampah Sayang. (*)