Wisata Berbasis Ekosistem Gambut dan Kearifan Lokal untuk Masyarakat

20
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Puslitbang Hutan) Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar forum group discussion (FDG) bertema Pengembangan Produk Wisata Berbasis Ekosistem dan Kearifan Lokal Masyarakat Sekitar Hutan Gambut di Kabupaten Pulang Pisau, yang bertempat di Aula Bappeda Kabupaten Pulang Pisau, Selasa (24/11/2020). Foto: KLHK
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Puslitbang Hutan) Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar forum group discussion (FDG) bertema Pengembangan Produk Wisata Berbasis Ekosistem dan Kearifan Lokal Masyarakat Sekitar Hutan Gambut di Kabupaten Pulang Pisau, yang bertempat di Aula Bappeda Kabupaten Pulang Pisau, Selasa (24/11/2020). Foto: KLHK

TROPIS.CO, PULANG PISANG – Dalam pengelolaan ekosistem gambut, penting adanya keterlibatan masyarakat setempat.

Selain itu, pengelolaan lahan gambut juga tidak hanya untuk memperoleh keuntungan finansial saja, tetapi untuk pemulihan ekosistem gambut.

Oleh karena itu, jasa lingkungan khususnya ekowisata, menjadi potensial untuk dikembangkan di ekosistem gambut.

Terkait hal ini, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Puslitbang Hutan) Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar forum group discussion (FDG) bertema Pengembangan Produk Wisata Berbasis Ekosistem dan Kearifan Lokal Masyarakat Sekitar Hutan Gambut di Kabupaten Pulang Pisau, yang bertempat di Aula Bappeda Kabupaten Pulang Pisau, Selasa (24/11/2020).

Mewakili Kepala Puslitbang Hutan KLHK, Kepala Bidang Kerja Sama dan Diseminasi Puslitbang Hutan KLHK, Ahmad Gadang Pamungkas mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu bentuk diseminasi hasil-hasil penelitian kepada para pihak.

“Kami ditopang oleh tim peneliti yang kredibel, dan analisis berkualifikasi tinggi.”

“Oleh karena itu, saran dan masukan kami kepada pemerintah daerah, mempunyai kompatabilitas, adaptif dan mempertimbangkan banyak hal untuk bisa dilaksanakan, baik oleh pemerintah daerah, masyarakat, maupun berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan destinasi wisata khusus di Kabupaten Pulang Pisau,” kata Ahmad Gadang.