Telur Elang Jawa di TN Halimun Salak Menetas 

31
Anak burung Elang Jawa, Wira, yang kini berusia tiga pekan mulai mengepak-ngepak sayapnya dan mau terbang di sarangnya. Foto: KLHK
Anak burung Elang Jawa, Wira, yang kini berusia tiga pekan mulai mengepak-ngepak sayapnya dan mau terbang di sarangnya. Foto: KLHK

TROPIS.CO, JAKARTA – Seekor elang Jawa di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) telah menetaskan seekor anak yang kemudian diberi nama Wira.

Telur dari Beti dan Jalu ini diketahui menetas pada 20 April kemarin dan kini kondisinya cukup sehat dan telah bisa mengepak-ngepakan sayap kecilnya, belajar terbang di sarang.

“Bahkan Wira mulai mematuk dan coba mencabik-cabik mangsa pakan yang dibawa induknya, walau dalam tetapi proses makannya masih disuapi oleh sang induk.”

“Proses penetasan Wira ini selalu dalam pantauan Tim monitoring Elang Jawa Balai TN Gunung Halimun Salak,” kata Kepala Balai TNGHS Ahmad Munawir dalam keterangan persnya di Jakarta, Sabtu (16/5/2020).

Baca juga: Menteri Siti Tegaskan Lembaga Konservasi Harus Jelas Manajemen Usahanya

Elang Jawa merupakan salah satu dari tiga spesies kunci di TNGHS dan sebagai satwa endemik Pulau Jawa.

IUCN mengkategorikan Elang Jawa sebagai jenis satwa terancam punah dan Pemerintah Indonesia menetapkan Elang Jawa sebagai jenis satwa dilindungi.

Elang Jawa hanya mengalami satu kali masa berkembangbiak dalam dua tahun itupun jumlah telurnya hanya satu butir sehingga secara alami memiliki populasi yang rendah.

“Masa bersarang merupakan masa yang paling penting dalam siklus hidup burung pemangsa untuk keberlanjutan keberadaannya,” jelas Ahmad Munawir.

 

Induk anak elang jawa, Beti saat mendampingi anaknya yang baru menetas, di Tmana Nasional Gunung Halimun Salak

Di dalam ekosistem, Elang Jawa mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai indikator terjaganya suatu kawasan hutan.

Secara umum, habitat Elang Jawa berada pada hutan primer dan sebagian kecil hutan sekunder yang berdekatan atau berbatasan dengan ecotone.

Kawasan TNGHS yang merupakan hutan hujan tropis pegunungan terluas yang masih tersisa di Pulau Jawa diyakini sebagai hatitat terbaik dari jenis elang ini.

Ahmad Munawir menyampaikan, mulai tahun 2015 sampai tahun 2020 telah ditemukan 11 sarang aktif Elang Jawa di kawasan taman nasional ini, yaitu  delapan sarang di kawasan Gunung Salak dan tiga sarang di kawasan Gunung Halimun.

Dari 11 sarang Elang Jawa yang ditemukan, tercatat hampir di seluruh sarang mengalami success breeding kecuali satu sarang yang berada di Blok Pasir Ngantuk, Resort PTNW Kawahratu, Seksi PTNW III Sukabumi (di kawasan Gunung Salak).

Berdasarkan hasil pengamatan, sarang yang berada di Blok Bitung Lega, Resort PTNW Gunung Salak I, Seksi PTNW II Bogor (di kawasan Gunung Salak) yang paling banyak success breeding.

Tercatat sebanyak tiga kali mulai dari awal tahun 2015, tahun 2016 dan yang terbaru lahir pada pertengahan bulan April 2020.

Sebelumnya, pada tahun 2019 telah menetas Elang Jawa di bagian Utara Barat Gunung Salak diberi nama Sabeni.

Baca juga: Pengelola Kebun Binatang Mulai Kesulitan Biaya Pemeliharaan Satwa

“Dalam kurun satu setengah tahun terakhir telah menetas dua butir telur Elang Jawa. ”

“Sejatinya ada tiga telur, tapi telur buaian Beti dan Jalu ini, tidak menetas,” tutur Ahmad Munawir

Sedangkan tahun ini telah lahir juga di bagian puncak Utara Timur Gunung Salak bernama Wira.

“Semoga kelak keduanya dapat menjalankan tugas sebagai penguasa langit Gunung Salak bagian Utara sehingga keseimbangan ekosistem di kawasan ini dapat terjaga dengan baik,” pungkas  Ahmad Munawir. (Trop 01)