Surabaya Jadi Rujukan Pengelolaan Sampah ASEAN

12
Lokasi daur ulang menerapkan teknologi Black Soldier Fly (BSF), yang merupakan hasil kerja sama antara KLHK dengan Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya. Foto : KLHK
Lokasi daur ulang menerapkan teknologi Black Soldier Fly (BSF), yang merupakan hasil kerja sama antara KLHK dengan Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya. Foto : KLHK

TROPIS.CO. SURABAYA – Kota Surabaya menjadi terdepan dalam pengelolaan sampah, hal ini terbukti dengan satu-satunya kota di Indonesia yang meraih Adipura Kencana.

Dari segi sarana, Surabaya mempunyai salah satu pusat daur ulang sampah yaitu Pusat Daur Ulang (PDU) Jambangan yang layak menjadi panutan.

Fasilitas daur ulang sampah yang dibangun pada 2015 ini dapat mengelola 5-6 ton sampah per hari, dengan kapasitas maksimum 20 ton/hari, serta income harian dari sampah yang terolah adalah Rp6 juta/hari.

Dalam rangkaian kunjungan ekskursi rombongan Sekjen dan perwakilan tetap negara anggota ASEAN terkait pengelolaan sampah di PDU Jambangan, Jumat (3/5/2019), Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK M.R. Karliansyah mengatakan pengelolaan sampah di Surabaya sungguh luar biasa dan patut menjadi contoh bagi kota lainnya di Indonesia dan bahkan ASEAN.

“Kita ingin menunjukkan kepada Sekjen dan Duta Besar Negara ASEAN, bahwa Surabaya adalah leader dalam pengelolaan sampah.”

“Pengelolaannya bukan hanya digerakkan oleh Pemda, tapi muncul dari inisiatif masyarakat sendiri. Inilah yang ingin kita tunjukkan,” kata Karliansyah.

Lokasi daur ulang ini juga menerapkan teknologi Black Soldier Fly (BSF), yang merupakan hasil kerja sama antara KLHK dengan Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya.

Teknologi ini memanfaatkan larva lalat untuk memakan sampah organik dari sisa makanan/limbah rumah tangga, yaitu setiap 10 ribu larva, mampu mengurai limbah sebanyak 12 kilogram, dalam 12 hari.

“Di PDU ini adalah proyek KLHK tahun 2015, dan saat ini Pemko Surabaya akan membangun tiga lagi.”

“Kita dengar tadi hasilnya 30% jadi kompos, sebagian menjadi number energi listrik, dan anda bisa lihat proses pengomposannya dengan menggunakan larva,” ucap Karliansyah.

Saat ini di Indonesia sudah ada 12 PDU serupa, diantaranya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Labuan Bajo, Ponorogo, Bandung, Kota Bandung, Cimahi, dan lain-lain.

“Kota di Indonesia patut menjadi contoh pengelolaan sampah bagi kota-kota di ASEAN.”

“Saya berharap Indonesia dapat berbagi pengetahuan dan teknologi dengan Negara ASEAN lainnya, imbuh Sekjen ASEAN H.E Dato Lim Jock Hoi usai meninjau PDU Jambangan.

Kemudian masih di Kecamatan Jambangan, rombongan juga melihat keberhasilan bank sampah.

Keberadaan bank sampah di kecamatan tersebut berhasil mengajak warga untuk menabung dengan cara menyetorkan sampah, yang kemudian setelah terkumpul, akan dijual dan hasil uangnya dapat diambil lagi oleh masyarakat saat membutuhkan, seperti pada momen hari raya atau pada saat anak masuk sekolah.

Di akhir kunjungan, Sekjen ASEAN mencoba “Suroboyo Bus”, yaitu transportasi ramah lingkungan yang mensyaratkan pembayaran ongkos bus dengan sampah plastik.

Bagi penumpang yang akan naik dapat memilih untuk membayar ongkos bus, yaitu lima botol ukuran tanggung atau tiga botol besar, atau 10 gelas air mineral, atau kantong plastik (kresek), dan kemasan plastik. Penumpang bisa berkeliling Surabaya selama 2 jam secara gratis.

Ikut serta dalam kunjungan ini, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Ruandha Agung Sugardiman, Pimpinan Tinggi Pratama, Tenaga Ahli Menteri LHK, Kepala UPT KLHK dan pejabat Pemerintah Kota Surabaya. (*)