Bamsoet, dari Jurnalis Jadi Politikus

206
Bambang terkesan berupaya melepas protokoler dalam kesehariannya.
Bambang terkesan berupaya melepas protokoler dalam kesehariannya.

TROPIS.CO, JAKARTA – Berita tentang ditetapkannya Bambang Soesatyo menjadi Ketua DPR RI cukup menghentak saya. Bagaimana tidak, Bambang yang sudah saya kenal sejak mengawali profesi wartawan di Harian Prioritas sekitar Januari 1986, kini telah menjadi sosok penentu di Republik ini. Sungguh ini puncak karier yang luar biasa dalam kehidupan politik seorang wartawan atau jurnalis.

Memang Bambang bukan yang pertama wartawan yang terjun dalam dunia politik hingga mencapai puncak. Jauh sebelumnya, ada sosok Harmoko yang juga dibesarkan sebagai jurnalis dan menjadi pendiri sekaligus pemilik Harian Pos Kota, kemudian mencapai puncak karier politik hingga menjadi Ketua DPR RI.

Atau sosok Ade Komaruddin yang menggantikan Satya Novanto karena diindikasikan pelanggaran kode etik sebagai anggota DPR RI – yang kemudian digantikan lagi oleh Satya Novanto.

Ade Komaruddin atau biasa dipanggil Akom sempat tercatat sebagai wartawan Harian Media Indonesia yang juga merupakan kelanjutan dari Harian Prioritas.

Walau saya cukup dekat dengan Akom namun lebih dekat saat Akom mulai duduk di Komisi V DPR RI, saat Komisi V diketuai Bachtiar Hamsah dan Ketua DPR RI Akbar Tanjung, bukan saat sama sama di Media Indonesia. Namun pengangkatan Akom sebagai Ketua DPR RI tak terlampau istimewa bagi saya.

Sangat beda saat terdengar kabar Bambang Soesatyo dilantik menjadi Ketua DPR RI, hatiku terkesan berbunga bangga. Dan spontan di lingkungan kerja, saya katakan; “hebaat sobatku menjadi Ketua DPR RI. Dulu sama sama mengawali wartawannya dengan saya di Prioritas,” kata saya kepada rekan rekan wartawan di Majalah Ekonomi Lingkungan TROPIS, majalah yang kami kelola sejak tahun 1998.

Tuhan telah mempertemukan kami di suatu tempat yang namanya Gondangdia Lama 46. Saya yang kala itu sudah menjadi wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA di Bangka Belitung, mencoba mengadu nasib di Jakarta dan mencoba bergabung dengan Harian Prioritas. Di sini bertemu dengan banyak wartawan senior dan juga wartawan pemula.

Saya, Bambang Soesatyo, Bramo dan Sabar Hutapea adalah sosok sosok wartawan pemula. Bekerja belum digaji karena belum menjadi wartawan tetap. Kami digolongkan sebagai wartawan lepas yang dibayar berdasarkan jumlah berita yamg dimuat.

Dari kami berempat, Bramono sebagai wartawan olahraga yang sangat produktif. Baru kemudian Bambang Soesatyo, wartawan ekonomi. Dalam hal produktivitas Bambang sangat produktif dan beritanya cenderung ekslusif buksn berita seremonial. Sehingga tak heran bila berita yang hasil liputannya lebih banyak menghiasi halaman depan, bahkan tak jarang berita utama.

Bambang memiliki talenta yang cukup tinggi dan sangat mudah menggali informasi dari setiap nara sumber. Tampilan Bambang yang memang terkesan young man kala itu dan selalu berpakaian rapi, memberikan kesan seorang wartawan handal.

Dan jujur, kesan itu memang ditampilkan secara nyata hingga setiap penugasan yang diberikan Wakil Pemimpin Redaksi Panda Nababan dan Koordinator Liputan Derek Manangka, dapat dipastikan jarang gagal.

Lantaran itu baik Panda maupun Derek merasa yakin bila penugasan khusus kepada Bambang bakal mendapatkan hasil liputan yang optimal.

Saya memang merasa sangat dekat dengan Bambang karena berada dalam satu desk yakni ekonomi. Sehingga komunikasi sangat intens.Terutama yang berkaitan dengan isu-isu ekonomi.

Kini Bambang sudah menjadi politikus. Dengan berlindung di bawah Beringin, Bambang menapak dari bawah. Dan Bambang sangat welcome terhadap kawan lamanya. Kendati jarang bertemu namun nilai-nilai silaturahmi terus dia jaga.

Dalam kesibukannya, Bambang masih berkenan menerima kunjungan kawan lamanya. Dan ini sangat saya rasakan tatkala Bambang masih menjadi Ketua Komisi III, Bambang tak keberatan menerima kunjungan saat saya menyampaikan rencana ikut Pilkada Belitung Timur tahun 2005, saat itu hanya mohon doanya.

Tidak hanya saya. Para teman yang lainpun, mungkin merasakan hal serupa. Bambang terkesan berupaya melepas protokoler dalam kesehariannya. Dan dia merima kawan kawannya sama halnya dengan dia menerima tamu lainnya, urusan negara, dan lain-lain di ruang kerjanya.

Dalam dialog sangat terasa tak ada pembatas. Sehingga akan terasa sangat dekat. Dan suasanapun sangat cair.

Kini Bambang telah menjadi salah seorang sosok penentu di Republik ini, menjadi Ketua DPR RI. Sebagai sobat sesama journalis tentu berharap Bambang terus mengibarkan bendera kesuksesannya.

Tampil di tengah rakyat dengan suasana kepemimpinan yang penuh kharismatik. Untaian kata yang disampaikan memberikan kesejukan.
Apapun alasannya, kini telah menjadi “orang tua” dari rakyat Indonesia.

Dan saya sangat yakin Bambang mampu menumbuhkan rasa empati yang dalam kepada rakyatnya yang kurang diperankan dalam menggerakkan pembangunan.

Dengan naluri kewartawanannya Bambang, saya harapkan mampu memberikan warna dalam sistem perpolitikan nasional. Dan sukses ..sukses sobat..selangkah lagi kaulah..Presidenku…Amin.