Singapura Apresiasi Usaha Indonesia Atasi Karhutla

14
Direktur Pengendalian Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Raffles B. Panjaitan (tengah) memimpin delegasi Indonesia dalam sidang Asean yang membahas masalah Transboundry Haze Pollution atau asap lintas batas. Foto : KLHK
Direktur Pengendalian Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Raffles B. Panjaitan (tengah) memimpin delegasi Indonesia dalam sidang Asean yang membahas masalah Transboundry Haze Pollution atau asap lintas batas. Foto : KLHK

TROPIS.CO, JAKARTA – Upaya pemerintah Indonesia mengatasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menuai apresiasi dari negara tetangga.

Hal ini terungkap dalam sidang Asean dengan lima negara (Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei dan Indonesia), yang khusus membahas masalah Transboundry Haze Pollution atau asap lintas batas.

Sidang berlangsung dari tanggal 5 hingga 6 Agustus, di tengah berbagai upaya kolektif pemerintah Indonesia mengendalikan titik api yang mulai muncul di berbagai wilayah Sumatera dan Kalimantan.

“Tadi malam baru selesai meeting, selama dua hari sidang tidak ada yang menyampaikan transboundary dari Indonesia.”

“Kita jelaskan upaya-upaya konkrit yang terus dilakukan di lapangan, meski harus diakui kebakaran di lahan gambut memang sangat sulit dipadamkan,” kata Direktur Pengendalian Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Raffles B Panjaitan, di Jakarta, Rabu (7/8/2019).

“Saya bertemu dengan Menteri LHK-nya Singapore, Bapak Agus Zulkifly.”

“Beliau mengucapkan terimakasih atas usaha pemerintah Indonesia menangani Karhutla dan menyampaikan salam pada Ibu Menteri Siti Nurbaya,” tuturnya.

Saat ini kata Raffles, Satgas Terpadu Karhutla yang terdiri dari Manggala Agni, Polisi, TNI, BNPB, Pemda (BPBD), Kepala Desa, Regu Dalkar Swasta (Perkebunan, HTI, dan Ijin usaha lain), Brigade Karhut Taman Nasional dan BKSDAE serta MPA, terus melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan titik api yang bermunculan di daerah-daerah rawan.

Hingga 6 Agustus 2019, sekitar 38 unit helikopter dan pesawat terlibat dalam kegiatan patroli maupun pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Diantaranya 19 unit di Provinsi Riau, empat unit di Sumatera Selatan, enam unit di Kalbar, lima unit di Kalteng, dua unit di Kalsel, dan satu unit di Provinsi Jambi.

Per tanggal 5 Agustus, telah dilakukan sebanyak 24.660 kali water boombing dengan air yang dijatuhkan sebanyak 90.457.400 liter air untuk memadamkan api di titik-titik yang sulit dijangkau oleh tim darat.

Selain itu juga dilakukan modifikasi cuaca hujan buatan, dengan fokus pada daerah-daerah rawan.

Sampai tanggal 5 Agustus 2019 telah dilakukan 170 kali sorti dengan sebanyak 125,616 kg garam di Kabupaten Bengkalis, Siak, Inhil, Kampar, Pelalawan, Ogan Ilir, Kepulauan Meranti, dan Kota Dumai (Riau).

“Jadi upaya pengendalian tanpa henti terus kita lakukan.”

“Tentu kita sangat berharap peran aktif Pemda untuk terus mengingatkan, mengawasi dan mengedukasi masyarakatnya agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” ujar Raffles.

Menurutnya, bahwa solusi pemanfaatan kayu di lahan-lahan masyarakat bisa dijadikan cuka kayu yang kemudian diolah menjadi pupuk cair.

Alat pengolahan cuka kayu ini diciptakan Manggala Agni di Daops Kalimantan dan Sumatera.

Uji coba pupuk cair dari cuka kayu sudah dilakukan untuk tanaman jagung, kopi dan nanas. Kualitas hasilnya hampir sama dengan lahan yang diberi pupuk kimia.

“Kalau bisa alat ini discale up oleh BPPT akan sangat baik.”

“Masyarakat diberikan secara cuma-cuma, sehingga kayu tidak dibakar sia-sia, bahkan harga perliter cuka kayu ini di Kalimantan Barat mencapai Rp10.000,00 per liter.”

“Ini bisa jadi alternatif ekonomi daripada membakar lahan yang merugikan kita semua,” pungkas Rafles. (*)