Sawit Gairahkan Ekonomi Masyarakat Kampit Menjelang Lebaran

314
Rancangan revisi UU Kehutanan tak menyentuh jenis pohon yang dikategorikan tanaman hutan. Sementara sejumlah pakar mengharapkan revisi UU Kehutanan bisa memperlancar pengembangan ekonomi tidak membatasi diri dari aspek lingkungan karena pengaruh pihak asing.
Rancangan revisi UU Kehutanan tak menyentuh jenis pohon yang dikategorikan tanaman hutan. Sementara sejumlah pakar mengharapkan revisi UU Kehutanan bisa memperlancar pengembangan ekonomi tidak membatasi diri dari aspek lingkungan karena pengaruh pihak asing.

TROPIS.CO, BELITUNG – Ekonomi sawit telah menggairahkan kehidupan masyarakat di Kelapa Kampit, Belitung Timur, 10 hari menjelang lebaran.

Pusat pusat pembelanjaan dan toko toko yang menjual berbagai keperluan lebaran dipadati pengunjung. Bahkan pasar Kelapa Kampit yang biasanya hanya beroperasi setengah hari, kini buka hingga larut malam.

Bukan hanya itu, sejumlah gerai ATM sejak sore hingga malam seakan tak sepi pengunjung. Antrian tampak jelas di ATM Mandiri, Bank BNI dan Bank BRI, walau tidak terlampau panjang.

Sebagian besar diantara mereka itu adalah pekerja pekerja di perusahaan sawit yang ada di sekitar Kelapa Kampit. Mereka mulai mendatangi ATM setelah perusahaannya menggelontorkan Tunjangan Hari Raya(THR), akhir pekan kemarin.

Mereka itu selain masyarakat lokal juga tak sedikit pendatang, terutama dari Lombok yang menjadi pekerja di perkebunan kelapa sawit. Mereka memenuhi ATM untuk mengirimkan uang kepada keluarga di Lombok.

Di wilayah Kelapa Kampit yang merupakan kota administrasi kecamatan, terdapat sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Dan itu diantaranya, PT Satelindo, PT Parit Sembada, dua perusahaan yang berapliasi pada kelompok Kepong Malaysia.

Selain itu ada PT PUS milik konglomerat almarhum Budiono Widodo, kelompok usaha Sumatera Timber Utama Damai dan PT AMA. Perusahaan perkebunan kelapa sawit ini memperjakan tak kurang dari 20.000 tenaga kerja.

Tidak hanya perusahaan, di Kelapa Kampit juga terdapat perkebunan sawit masyarakat yang luasnya sudah mendekati hampir 6.000 hektare.

Keberadaan sawit dinilai sangat membantu ekonomi masyarakat di tengah lesunya ekonomi tambang. Kelapa Kampit sejak puluhan tahun nan silam juga sebagai wilayah produksi timah.

Belakangan ini komoditi timah kurang memberikan kontribusi yang tidak terlalu signifikan.

Kendati harga cenderung membaik namun potensinya kian menipis maka tidak sedikit penambang penambang liar merambah kawasan terlarang.

Akibatnya, hal ini sehingga mengundang banyak keluhan masyarakat, lantaran terancamnya kelestarian linglungan dan tercemarnya sumber air masyarakat. (*)