Saat Pasar Global Lesu, Pasar Domestik Tetap Bergairah

25
Produksi bulan Mei yang lebih rendah dari bulan April 2020 diduga masih disebabkan efek kemarau panjang 2019 dan pengaruh musiman. Foto: TROPIS.CO/Jos
Produksi bulan Mei yang lebih rendah dari bulan April 2020 diduga masih disebabkan efek kemarau panjang 2019 dan pengaruh musiman. Foto: TROPIS.CO/Jos

TROPIS.CO, JAKARTA – Dibandingkan dengan bulan April 2020, produksi crude palm oil (CPO) pada bulan Mei sebesar adalah 3.616 ribu ton atau turun 1,9 persen, konsumsi dalam negeri turun 1,6 persen menjadi 1.380 ribu ton, ekspor turun 8,3 persen menjadi 2.428 ribu ton, dan harga CPO masih menunjukkan penurunan dari rata-rata US$564 pada bulan April menjadi US$526 per ton-Cif Rotterdam pada bulan Mei.

Demikian juga dengan nilai ekspornya turun US$165 juta dari US$1,64 miliar menjadi US$1,47 miliar.

“Apabila dibandingkan Januari-Mei 2019, produksi CPO dan PKO Januari hingga Mei 2020 adalah 19.001 ribu ton atau 14 persen lebih rendah, konsumsi dalam negeri adalah 7.334 ribu ton atau naik 3,6 persen, volume ekspor adalah 12.736 ribu ton atau turun 13,7 persen tetapi nilai ekspornya naik dari US$7,995 juta menjadi US$8,437 juta,” ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono dalam keterangan persnya, Jumat (10/7/2020).

Produksi bulan Mei yang lebih rendah dari bulan April 2020 diduga masih disebabkan efek kemarau panjang 2019 dan pengaruh musiman.

Baca juga: Food Estate Jadi Cadangan Strategis Pangan Indonesia

Menurutnya, konsumsi dalam negeri secara total masih positif ditengah berlakunya PSBB dan salah satu peningkat konsumsi adalah oleokimia yang naik 31,4 persen.

Konsumsi biodiesel juga meningkat sebesar 23,2 persen.

Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang konsisten dalam implementasi program B30.

Penurunan ekspor terutama terjadi pada refined palm oil yang secara umum disebabkan oleh selisih harga minyak sawit dengan minyak kedelai yang kecil.

Penurunan ekspor bulan Mei terbesar terjadi dengan tujuan Tiongkok sebesar 87,7 ribu ton (-21 persen), ke Uni Eropa sebesar 81,5 ribu ton (-16,62 persen), ke Pakistan sebesar 47 ribu ton (-23,4 persen) dan ke India sebesar 38,6 ribu ton (-9,2 persen).

Penurunan ekspor ke Tiongkok mungkin juga disebabkan meningkatnya crushing oilseed (khususnya kedelai) yang cukup besar sehingga pasokan minyak nabati Tiongkok tinggi.

“Meskipun terjadi penurunan ekspor ke beberapa negara, ada beberapa negara tujuan ekspor yang menunjukkan kenaikan seperti Mesir dengan 42 ribu ton atau naik 81 persen dari ekspor April 2020, Ukraina dengan 31 ribu ton (+99 persen), Filipina dengan 29 ribu ton (+73 persen), Jepang dengan 19 ribu ton (+35 persen), dan ke Oman dengan 15 ribu ton (+85 persen),” ungkapnya.

Baca juga: Penyediaan Air Irigasi Kunci Pengembangan Food Estate di Kalteng

Kegiatan ekonomi Tiongkok, India, dan banyak negara lain mulai pulih sehingga permintaan akan minyak nabati untuk kebutuhan domestiknya mulai naik.

“Kegiatan ekonomi Indonesia juga sudah mulai pulih sehingga ke depan permintaan minyak sawit untuk pangan juga akan naik mengikuti permintaan oleokimia dan biodiesel,” pungkas Mukti. (*)