Prof Supiandi Sabiham: Mesti Bijaksana serta Seimbang Dalam Pengelolaan Lahan Gambut

20
Ketua Umum Himpungan Gambut Indonesia (HGI) Prof Supiandi Sabiham mengatakan pendekatan pengembangan lingkungan dalam pemanfaatan lahan gambut, hendaknya lebih berlandaskan pada kemampuan dan kesesuaian lahan. Foto: The Palm Scribe
Ketua Umum Himpungan Gambut Indonesia (HGI) Prof Supiandi Sabiham mengatakan pendekatan pengembangan lingkungan dalam pemanfaatan lahan gambut, hendaknya lebih berlandaskan pada kemampuan dan kesesuaian lahan. Foto: The Palm Scribe

TROPIS.CO, JAKARTA – Himpunan Gambut Indonesia (HGI) berharap pengelolaan lahan gambut mesti bijaksana serta seimbang antara nilai nilai sosial atau perkembangan masyarakat, ekonomi, dan lingkungan.

Pendekatan tidak sebatas pada pengembangan lingkungan, tapi juga ekonomi yang berlandaskan pada teknologi yang bersifat adaftif dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan pada kerja sama antara masyarakat, swasta, atau pengusaha dan pemerintah daerah atau pusat.

“Pendekatan pengembangan lingkungan dalam pemanfaatan lahan gambut, hendaknya lebih berlandaskan pada kemampuan dan kesesuaian lahan,” kata Prof Supiandi Sabiham dalam acara Webinar, Kamis (18/2/2021).

Ketua Umum Himpunan Gambut Indonesia ini juga mengatakan bahwa kontribusi gambut terhadap pertumbuhan dan pergerakan ekonomi nasional, belakangan sangat tinggi.

Dia menyebut, pada tahun 2016, berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, kontribusi 15 komoditi di sektor perkebunan terhadap PDB nasional mencapai Rp429 triliun.

Nilai ini jauh di atas kontribusi sektor migas yang hanya Rp365 triliun dan kelapa sawit yang memberikan sumbangan terbesar mencapai Rp260 triliun.

“Nah, dari Rp 260 triliun itu, sekitar Rp33,8 triliun berasal dari perkebunan kelapa sawit di lahan gambut,” tutur Prof Supiandi Sabiham.

Saat ini perkebunan kelapa sawit di lahan gambut ada seluas 1,7 juta hektare atau sekitar 13 persen dari luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang kini diperkirakan ada sekitar 16 juta hektare.

Merujuk pada data ini maka sangat beralasan bila Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor ini mengharapkan arah pengembangan dan pemanfaatan lahan gambut lebih bijaksana, dan tetap dalam sistem pengelolaan gambut yang berkelanjutan dengan menekan risiko secara bijak sehingga pengembangan potensi ekonomi pada lahan gambutpun bisa optimal.