Prof Na’eim : Silin Jadikan Hutan Lebih Sehat

50
Prof Muhammad Na'eim merupakan Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada sekaligus pakar Silvikultur Intensif. Foto : Istimewa
Prof Muhammad Na'eim merupakan Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada sekaligus pakar Silvikultur Intensif. Foto : Istimewa

TROPIS.CO, JAKARTA – Penerapan teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada pengelolaan hutan alam, dapat membuka peluang terbangunnya hutan yang sehat, produktif, kompetitif, efisien, dan lestari sehingga keberadaan hutan sebagai sumber kebutuhan primer manusia dapat terwujud.

Pakar Silin Prof Muhammad Na’eim mengatakan itu dihadapan sekitar 100 pengusaha kehutanan dan pejabat Eselon II dan Eselon III Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saat dilangsungkan Sosialisasi Silin Tahap Dua di Jakarta, Jumat (14/6/2019).

Menurutnya, dengan kondisi hutan yang sehat dan prospektif maka hutan akan mampu dikelola sebagai bisnis yang menguntungkan.

“Tujuan ini sejalan dengan Kesepakatan Rio 1992 maupun Rio 2012.”

“Kesepakatan itu bukan suatu beban bagi negara peserta, melainkan kewajiban dalam upaya mewujudkan green economy,” ujar Prof Na’eim.

Diakui Na’eim, upaya pelestarian dalam pemanfaatan hutan tropika telah mengalami tantangan yang berat dan sebagian besar hutan yang tersisa dalam kondisi yang tidak produktif.

Berbagai upaya menekan dan menyelamatkan telah dilakukan untuk meningkatkan laju pertumbuhan tegakan.

Memodifikasi komposisi kesehatan dan kualitas hutan guna memenuhi berbagai kebutuhan dan nilai nilai kemanusiaan.

Namun, dia menilai, berbagai upaya itu tak kuasa menahan laju deforestasi dan degradasi hutan sehingga produksi kayu merosot tajam dari tahun ke tahun.

Sebagai contoh pada tahun 1990, Na’eim menyebutkan bahwa produksi kayu nasional masih sekitar 26 juta m3.

Tapi pada posisi empat tahun silam, tepatnya 2015, tinggal 5,83 juta m3.

Padahal tahun itu ditargetkan paling tidak mencapai 10,98 juta m3.

Tentu, pada tingkat global, tren ini telah mengubah peranan hutan tropika menjadi sumber emisi gas rumah kaca dan hilangnya kekayaan biodiversity.

Lantas lokasi ini kemudian menjadi tempat sebagian masyarakat miskin bermukim.

Karena itu dengan diterapkannya teknik Silin, menurutnya, mungkin dapat dijadikan jawaban atas persoalan kondisi hutan alam Indonesia tersebut.

Dengan mengoptimalkan dampak perbaikan genetik, lingkungan tempat tumbuh, dan organisme pengganggu tanaman maka diharapkan terjadi perbaikan hutan yang rusak serta mampu mengubahnya menjadi hutan produktif.

“Hal ini akan membuat eksistensi hutan mampu berperan sebagai pemasok kebutuhan kayu atau biomaterial lainnya.”

“Termasuk juga didalamnya, kebutuhan pangan, energi terbarukan, serta terjaminnya penyedia jasa lingkungan,” pungkas Prof Na’eim. (*)