Produksi Minyak Sawit dapat Meningkat Tanpa Mengubah Hutan Hujan dan Lahan Gambut

21
Kontribusi ekspor sawit tahun 2020 bagi Indonesia mencapai US$25,60 miliar dan menyerap tenaga kerja mencapai 16,2 juta orang. Foto: TROPIS.CO/Jos
Kontribusi ekspor sawit tahun 2020 bagi Indonesia mencapai US$25,60 miliar dan menyerap tenaga kerja mencapai 16,2 juta orang. Foto: TROPIS.CO/Jos

TROPIS.CO, JAKARTA – Minyak sawit, sumber minyak nabati terpenting di dunia, berasal dari buah pohon sawit abadi, yang dibudidayakan sepanjang tahun di sebagian besar daerah tropis.

Buah sawit dipanen secara manual setiap 10 hari hingga dua minggu, kemudian diangkut ke pabrik untuk diproses, dan akhirnya diekspor dan dibuat menjadi rangkaian produk mulai dari makanan hingga perlengkapan mandi hingga biodiesel.

Puluhan negara memproduksi minyak sawit, tetapi Indonesia memproduksi sekitar dua pertiga dari pasokan dunia, dan permintaan akan produk tersebut terus meningkat.

Menurut Patricio GrassiniIni, seorang Profesor Agronomi dari University of Nebraska-Lincoln (UNL), kelapa sawit ibarat pedang bermata dua bagi Indonesia dan negara produsen minyak sawit lainnya.

Minyak sawit merupakan ekspor utama dan memberikan kontribusi terhadap stabilitas ekonomi negara-negara produsen utama, serta petani individu yang memproduksinya.

Namun untuk memenuhi permintaan, hutan hujan dan lahan gambut – ekosistem berharga yang berkontribusi besar terhadap keanekaragaman hayati – sering diubah menjadi produksi kelapa sawit.

Sebuah proyek penelitian empat tahun yang dipimpin oleh Grassini dan didukung oleh hibah US$4 juta dari Kementerian Luar Negeri Norwegia menunjukkan bahwa memenuhi permintaan mungkin tidak berarti mengubah ekosistem yang lebih berharga dan rapuh menjadi lahan pertanian.

Menurut penelitian yang diterbitkan 25 Maret 2021 di Nature Sustainability, hasil minyak sawit di pertanian dan perkebunan yang ada bisa sangat meningkat dengan praktik pengelolaan yang lebih baik.

Peneliti dari Lembaga Penelitian Kelapa Sawit Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, dan Wageningen University di Belanda juga menjadi bagian dari proyek ini.

Di Indonesia, sekitar 42 persen lahan yang digunakan untuk produksi minyak sawit dimiliki oleh petani kecil, sisanya dikelola oleh perkebunan besar, kata Juan Pablo Monzon, Asisten Profesor Agronomi dan Hortikultura UNL dan penulis pertama makalah yang diterbitkan.

“Ada potensi besar untuk meningkatkan produktivitas perkebunan saat ini, terutama dalam kasus pertanian petani kecil, di mana hasil saat ini hanya setengah dari apa yang dapat dicapai,” ungkap Juan Pablo Monzon seperti dikutip www.eurekalert.org.

Baca juga: Fitonutrien Sawit Berpeluang Menjadi Tambang Ekonomi Indonesia