Para Ahli Iklim Serukan Kolaborasi Aksi Iklim di Asia di Tengah Pandemi Covid-19

32

Fokus Konferensi

Sebagai tanggapan, konferensi tersebut difokuskan pada negara-negara berkembang yang ditentukan secara Nationally Determined Contributions (NDC) dan National Adaptation Plans (NAP), cara yang tepat implementasi, kolaborasi, dan pengarusutamaan upaya iklim di lapangan dapat membantu memenuhi tujuan Perjanjian Paris.

“Selain kepatuhan, lebih penting untuk mengontekstualisasikan NDC dan RAN (Rainforest Action Network) di tingkat nasional dan perencanaan lokal serta pastikan kami melakukan hal yang benar di lapangan dalam hal mitigasi dan adaptasi,” kata Prof. Saleemul Huq, Direktur Pusat Internasional Perubahan Iklim dan Pembangunan di Bangladesh.

Hal senada juga digemakan ilmuwan iklim asal Filipina, Lourdes Tibig, seorang pakar teknis dari Komisi Perubahan Iklim Filipina dan anggota pendiri Jaringan Ahli Iklim Asia (ACE Network).

Baca juga: Lembaran Baru Indonesia, Politik Ramah Lingkungan

“Kita butuh juara di tingkat nasional dan lokal agar bisa menanamkan perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan.”

“Harmonisasi kebijakan dan sumber daya juga sangat penting,” ujarnya.

“Meskipun kami berbicara dalam berbagai bahasa di seluruh Asia, secara kolektif kami memiliki kapasitas manusia, keahlian, dan pengalaman dalam menangani perubahan iklim dan dampaknya.”

“Saat kami bekerja sebagai tim, kami berprestasi lebih banyak dan semoga, kami mencapainya lebih cepat,” imbuh Dr. Felino Lansigan, Dekan Fakultas Seni dan Ilmu Pengetahuan Universitas Filipina Los Baños dan anggota pendiri ACE Network. (*)