Palm Oil Industry in the New Normal Economy, Tema 16th IPOC and 2021 Price Outlook

19
Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono (tengah), Ketua IPOC 2020 Mona Surya (kanan), dan Wakil Sekretaris Jenderal GAPKI Agam Fatchurohman (kiri) dalam konferensi pers penyelenggaraan IPOC 2020. Foto: GAPKI
Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono (tengah), Ketua IPOC 2020 Mona Surya (kanan), dan Wakil Sekretaris Jenderal GAPKI Agam Fatchurohman (kiri) dalam konferensi pers penyelenggaraan IPOC 2020. Foto: GAPKI

TROPIS.CO, JAKARTA – GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit) siap menyelenggarakan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) untuk pertama kalinya secara virtual.

16th Indonesian Palm Oil Conference and 2021 Price Outlook, yang akan diselenggarakan pada tanggal 2 hingga 3 Desember 2020 secara virtual, mengusung tema “Palm Oil Industry in the New Normal Economy.”

“IPOC adalah konferensi industri minyak sawit terbesar dunia, yang memberikan informasi perkembangan industri sawit Indonesia dan global terkini serta menganalisis tren harga minyak sawit ke depan,” tutur Mona Surya, Ketua Panitia Penyelenggara IPOC, dalam konferensi pers yang digelar secara virtual, Jumat (20/11/2020).

Menurutnya, pandemi Covid-19 telah berdampak kepada ekonomi dan perdagangan secara global.

Beberapa negara bahkan telah mengalami resesi ekonomi sehingga perlambatan ekonomi dan pembangunan juga tidak terhindari.

Baca juga: LSM Papua dan Lembaga Adat Minta Kampanye Hitam Sawit Dihentikan

Saat ini semua negara sedang berlomba-lomba menyusun strategi untuk memulihkan ekonomi di negaranya masing-masing termasuk Indonesia.

“Kita juga menyaksikan fluktuasi harga berbagai komoditas dan bahkan harga minyak mentah pun jatuh pada titik terendah.”

“Industri sawit adalah salah satu industri yang tidak terpengaruh secara signifikan karena perkebunan kelapa sawit rata-rata berada di lokasi terpencil, kegiatan operasional tetap berjalan dengan normal dengan menerapkan protokol kesehatan.”

“Meski demikian kekhawatiran tetap saja terjadi karena daya konsumsi yang menurun akibat perubahan pola hidup dan perlambatan ekonomi yang tentunya mempengaruhi demand secara global,” papar Mona.