Padat Karya Rp10 Triliun Digelar untuk Bantu Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19

16
Pengecatan rangka jembatan menjadi salah kegiatan dalam padat karya tunai (PKT) untuk masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Foto: Kementerian PUPR
Pengecatan rangka jembatan menjadi salah kegiatan dalam padat karya tunai (PKT) untuk masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Foto: Kementerian PUPR

TROPIS.CO, JAKARTA – Pemerintah lewat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) percepat realisasi Program Padat Karya Tunai (PKT) pada tahun 2020 dengan anggaran sebesar Rp10 triliun yang tersebar di 34 Provinsi.

Percepatan program padat karya Kementerian PUPR ditujukan untuk mempertahankan daya beli masyarakat dan mengurangi angka pengangguran di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang sesuai instruksi Presiden Joko Widodo.

Anggaran program padat karya tersebut digunakan untuk tujuh program, yakni Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI), Pemeliharaan Rutin Jalan dan Jembatan, Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW), Penataan Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas), Pembangunan Baru dan Peningkatan Kualitas Rumah Swadaya.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan program infrastruktur kerakyatan atau Padat Karya Tunai (PKT) sangat penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sebab pembangunan infrastruktur padat karya, selain untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat, juga bertujuan mengurangi pengangguran.

Baca juga: Demi Dukung Penanganan Covid-19, Kementerian PUPR Realokasi Rp24,53 Triliun Anggaran Pembangunan Infrastruktur

Baca juga: Kementerian PUPR Realokasi Rp24,53 Triliun Anggaran Pembangunan Infrastruktur untuk Dukung Penanganan Covid-19

“Selain untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat, PKT juga bertujuan mendistribusikan dana hingga ke desa dan pelosok.

“Pola pelaksanaan PKT nanti juga harus memperhatikan protokol physical and social distancing untuk pencegahan penyebaran Covid-19,” ujar Menteri Basuki melalui konferensi video bersama media di Jakarta, Selasa (7/4/2020).

Di tahun 2010 program padat karya yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air yakni P3TGAI yang tersebar di 10 ribu lokasi dengan anggaran Rp2,25 triliun.

Saat ini sebanyak 761 lokasi P3TGAI sudah mempersiapkan atau memulai kegiatan sosialisasi dan 73 lokasi sudah melaksanakan kegiatan konstruksi fisik, berupa pembangunan saluran irigasi tersier di 15 lokasi di Lampung, 10 lokasi di Bali, dan 48 lokasi di Nusa Tenggara Timur, dengan anggaran per lokasi sebesar Rp225 juta.

Di bidang jalan dan jembatan, melalui Ditjen Bina Marga pada tahun 2020 dilaksanakan PKT berupa pemeliharaan rutin jalan sepanjang 47.017 kilometer dengan anggaran Rp0,489 triliun, misalkan untuk pembersihan median jalan, pengecatan marka dan berem.

Selain jalan, juga dilakukan pemeliharaan rutin jembatan yang menggunakan skema swadaya masyarakat sepanjamg 496.080 meter dengan anggaran Rp110 miliar, misalkan untuk pengecatan rangka jembatan.

Sedangkan di bidang permukiman, melalui Ditjen Cipta Karya pada 2020 akan dilaksanakan PKT PISEW di 900 kecamatan dengan anggaran Rp540 miliar, TPS-3R di 106 lokasi dengan anggaran Rp63 miliar, Pamsimas di 4.717 lokasi dengan anggaran Rp1,099 triliun, dan Sanimas di 1.028 lokasi dengan anggaran Rp391 miliar.

Pamsimas dan Sanimas merupakan program padat karya untuk mendukung pencegahan stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak balita melalui penyediaan sarana prasarana air bersih dan sanitasi.

Beberapa kegiatan Pamsimas yakni pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) baru, perluasan dan optimalisasi SPAM eksisting dengan modul sambungan rumah. Sementara beberapa kegiatan Sanimas yakni prasarana mandi, cuci, kakus (MCK), instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) komunal, IPAL kombinasi dengan MCK, dan sambungan rumah (SR).

Program selanjutnya di bidang permukiman adalah Kotaku di 364 kelurahan dengan anggaran Rp382 miliar.

Kotaku bertujuan untuk meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di kawasan kumuh perkotaan untuk mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni, produktif dan berkelanjutan.

Pada 2016 hingga 2019, Kotaku telah mencakup 5.086 kelurahan dan kelima komponen kegiatan Kotaku adalah perbaikan saluran, pembangunan tempat penampungan sampah (TPS), pembangunan jalan lingkungan, penanggulangan kebakaran (jalur evakuasi) dan ruang terbuka hijau (RTH).

Di bidang perumahan akan dilaksanakan PKT peningkatan kualitas rumah swadaya sebanyak 166 ribu unit dengan anggaran Rp3 triliun dan pembangunan baru rumah swadaya sebanyak 10 ribu unit dengan anggaran Rp371 miliar.

Baca juga: Fasilitas Pengendalian Infeksi Covid-19 di Pulau Galang Siap Digunakan

PKT tersebut dilaksanakan melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di bawah tanggung jawab Ditjen Penyediaan Perumahan, baik berupa peningkatan kualitas ataupun pembangunan rumah baru.

Untuk peningkatan kualitas rumah, masyarakat mendapat bantuan Rp17,5 juta sementara untuk pembangunan rumah baru sebesar Rp35 juta.

Dengan stimulus ini diharapkan timbulnya prakarsa dan upaya masyarakat dengan menumbuhkembangkan keswadayaan penerima bantuan, karena salah satu prinsip BSPS adalah masyarakat sebagai pelaku utama. (*)