Nyata di Balik Kebingunan

52
Anggota KTH Pinang Muda, KTH Harapan baru dan KTH Pinang Habang, tanah Laut, diskusi membahas pelaksanaan Diklat E-Learning. Foto: Istimewa
Anggota KTH Pinang Muda, KTH Harapan baru dan KTH Pinang Habang, tanah Laut, diskusi membahas pelaksanaan Diklat E-Learning. Foto: Istimewa

TROPIS.CO, JAKARTA – Setidakya ada sejumlah kebingungan yang saya rasakan, tatkala mendapat informasi bakal dilaksanakan pelatihan secara online menggunakan aplikasi zoom.

Bingung pertama, saya  sendiri masih agak asing dengan penerapan teknologi ini. Walau sebelumnya sudah beberapa kali menggunakannya, saat meeting zoom (istilah kerennya) dengan rekan sekantor karena WFH dijaman Covid-19.

Nah, saya sendiri sebagai pendamping bingung, bagaimana dengan petani anggota kelompok tani atau hutan, KTH yang saya dampingi. Bingung kedua yang saya rasakan, apakah mereka mau mengikutinya. Persoalannya, itu tadi, dalam pikiran saya, saya sedniri sebagai pendamping agak asing, apalagi mereka.

Lalu bingung berikutnya, bagaimana cara mengajari mereka di tengah aturan PSBB.Berkerut kening memang, ketika mendapat informasi dari Balai Perhutanan Sosial Kemitraan Lingkungan (BPSKL), Wilayah Kalimantan, tentang rencana tersebut.

Oh ya.. saya pendamping Perhutanan Sosial di KTH Harapan Baru, KTH Pinang Muda dan KTH Pinang Habang. Berada dalam satu desa, Desa Sungai Pinang, namanya, di Kecamatan Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan  Selatan.

Kendati itu tiga kelompok tani hutan. Namun semuanya  terangkum dalam satu izin. Semua di dalam kawasan pembinaan Kesatuan Pengelolan Hutan (KPH) Tanah Laut.

Sekadar  tahu,  KPH Tanah laut sendiri, luas kawasannya ada sekitar 92.641 hektare. Terbagi atas Hutan Lindung (HL) ± 15.862 hektare, Hutan Produksi Terbatas (HPT) ± 5.289 hektare dan Hutan Produksi Tetap (HP) seluas ± 71.490 hektare.

Nuvi Yanti Djuhaina; Saya berusaha memberikan yang terbaik dalam pendampingan ini.

Ketiga kelompok tani hutan ini, masing masing sudah punya program dan kegiatan. Ada yang sudah berjalan, walau belum optimal.

KTH Harapan Baru, misalnya. Mereka memanfaatkan potensi hutan sebagai kawasan pengembangan budi daya lebah madu, ternak sapi, agroforestry tanaman jengkol dan wisata paralayang.

Kalau KTH Pinang Muda, mereka berencana memproduksi air dalam kemasan, ternak sapi, dan juga mengembangkan perkebunan sirsak, karet, serta budi daya madu.

Sementara KTH Pinang Habang, selain mengembangkan budidaya lebah madu, ternajk sapi, agroforestry, juga  mengelola Bukit panti sebagai kawasan wisata.

Nah, berkaitan dengan rencana  bakal dilaksanakan pelatihan secara online menggunakan aplikasi zoom,  langsung saya infokan kepada Ketua Ketiga KTH  lewat group  Wastapp. Kita memang sudah ada group, dan ini sebagai media kami berdiskusi.

Kepada mereka, saya infokan bahwa akan ada pelatihan secara online. Nah, bahasa  itu dulu yang saya sampaikan,  agar  mereka mudah menerimanya, dan mudah menyampaikannya kepada masing masing anggota. Sungguh, saya sedikit kaget, mendapat respon mereka.

“ Siaap…..” itu kata singkat yang mereka luncurkan dalam Wastapp group.  Kesannya penuh semangat. Dan saat itu juga, saya mintakan agar segera pilih anggota yang bisa  dan mau ikut menjadi peserta.

Tak perlu menunggu waktu lama untuk mendapatkan nama nama yang bakal menjadi peserta. Sejumlah nama calon peserta dari masing masing perwakilan KTH, disampaikan lewat group. Dan tidak seka

dar nama yang mereka sampaikan, ada kalimat tambahan; kapan waktu pelaksanannya. Bagaimana teknisnya ?

Ternyata saya salah. Awalnya berpikir mereka tidak mau. Justru sebaliknya, penuh semangat. Respon positif ini, tentu tantangan baru bagi saya sebagai pendamping. Dan, artinya, saya harus jauh lebih semangat lagi ketimbang mereka.

Karenanya, langkah pertama, saya minta calon peserta, mendownload aplikasi zoom di Hp masing masing. Seketika itu juga, mereka memberikan respon; sudah terdownload aplikasi zoomnya. Dan untuk memastikan, saya coba untuk melakukan zoom kepada mereka.

Kiondisi lapangan dalam kawasan Perhutanan Sosial di kelompok tahi hutan binaan KPH Tanah laut

Berjalan mulus, semua terkomunikasi. Tidak menemukan kendala, kecuali sinyal atau jaringan yang timbul tenggelam. Artinya, di dalam aplikasi perangkat, tak ada masalah. Soal sinyal, kemudian disepakati, saat pelatihan, harus mencari tempat atau lokasi yang kuat sinyalnya.

Memang sempat agak nervous, gugup alias grogi, pada saat hari  pembukaan latihan. Namun tak berlanjut, cepat ditepis dengan membangkitkan semangat. Saya dan anggota KTH pasti bisa. Dan.. Alhamdulillah lancar.

Tentu tak sebatas  itu. Diklat E-Learning yang diprakarsai Ditjen Perhutanan Sosial bersama Badan Penyuluhan Pengembangan SDM Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini, telah memberikan sesuatu yang sangat baru.

Kami yang semula  tidak tahu menjadi tahu. Tidak yakin menjadi yakin.  Tidak mengerti  menjadi mengerti. Semula tidak bisa menjadi bisa.  Luar biasa memang.

Diklat yang dilaksanakan Balai Diklat LHK Samarinda berjalan lancar.  Tersusun rapi, terstruktur, dan para pengajar yang  sangat mumpuni. Sungguh merasa bangga  berada di dalam lingkungan orang orang yang hebat….dan keren.

Mengutip kalimat yang sering disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan,  Bapak DR. Hanif Faisol Nurrofiq, S.Hut. MP,  bahwa ” Jadilah manusia yang berguna, manusia yang menghasilkan karya terbaik terutama di bidang kita Kehutanan,  karena ketika kamu meninggal, mungkin hanya 2 atau 3 bulan orang akan mengingat mu,  kecuali keluarga mu yang akan terus mengingat mu. Namun kalau kamu memberikan karya terbia,  maka nama mu akan selalu dikenang … Maka lakukanlah yang terbaik… Dan semoga menjadi amal jariyah.

Nuvi Yanti Djuhaina, S.Hut
Pendamping PS di KTH Harapan Baru, KTH Pinang Mudan dan KTH Pinang Habang (1 izin 3 KTH) Desa Sungai Pinang  Tambang Ulang,Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan