METI Dorong Industri Dukung Pengembangan EBT di Tanah Air

48
Ketua umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Dharma berpandangan, Indonesia beruntung dianugerahi potensi EBT yang lengkap. Foto : m.jitunews.com
Ketua umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Dharma berpandangan, Indonesia beruntung dianugerahi potensi EBT yang lengkap. Foto : m.jitunews.com

TROPIS.CO, JAKARTA – Ketua umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Dharma menegaskan, upaya pengembangan energi baru terbarukan (EBT) yang dilakukan pemerintah wajib didukung seluruh pihak mengingat Indonesia memiliki seluruh subsektor EBT, yakni air, bayu (angin), geotermal, surya, bioenergi, dan laut.

“Kita (Indonesia) beruntung dianugerahi potensi EBT yang lengkap.”

“Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak mendukung pemerintah dalam mengembangkan EBT,” ujar Surya Dharma dalam acara Application of Waste to Energy Technology : Developing Scientific, Business and Renewble Energy Policy di Jakarta, Kamis (22/11/2018).

Begitu besarnya potensi EBT di Indonesia disadari betul oleh pemerintah, sehingga menetapkan target kontribusi EBT pada bauran energi nasional sebesar 23 persen pada 2025.

Selain untuk mengurangi ketergantungan kepada energi fosil yang terus berkurang, pengembangan EBT ini dirancang untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Pakar di bidang panas bumi ini melanjutkan, meskipun seluruh penjuru Indonesia diberkahi potensi EBT yang beragam dan melimpah, konsep pengembangan menjadi tantangan tersendiri.

Di situlah peran kemitraan lintas sektor dibutuhkan.

“Pemerintah, industri, dan akademisi harus duduk bersama untuk mengembangkan konsep atau teknologi untuk mengoptimalkan pemanfaatan EBT,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Andriah Feby Misna menuturkan, pemanfaatan EBT mayoritas dialokasikan pada kelistrikan, yang saat ini masih didominasi oleh batu bara sebesar 54 persen.

“Target kami di tahun 2025 EBT akan menyumbangkan 45,2 GW,” ungkap Feby.

Feby melanjutkan, bioenergi menjadi subsektor EBT yang saat ini tengah gencar dikembangkan oleh pemerintah.

Hal ini dapat dilihat dari dicanangkannya Mandatori B20 untuk kendaraan Public Service Obligation (PSO) dan non PSO.

Selain mendukung pencapaian target bauran energi pada 2025, komitmen pemerintah dalam pengembangan bioenergi tak lepas dari pesatnya pertumbuhan penduduk perkotaan dan terbatasnya kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA).

“Sampah dari 15 kota besar jika ditotal dapat dikonversikan menjadi listrik sebesar 2000MW,” ujarnya.

Diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Jabodetabek, Seminar Nasional tentang Application of Waste to Energy Technology : Developing Scientific, Business and Renewble Energy Policy merupakan platform diskusi lintas sektor untuk menemukan solusi atas meningkatnya jumlah sampah yang mencemari lingkungan. (*)