Menebar Benih Role Model Pendamping Perhutanan Sosial

133
Tuti Herawati menegaskan bahwa model adalah seseorang yang kita jadikan panutan karena keteladanannya dalam menjalankan tugas, kehidupan, hubungan pertemanan, usaha bisnis, dan sebagainya. Foto: Istimewa
Tuti Herawati menegaskan bahwa model adalah seseorang yang kita jadikan panutan karena keteladanannya dalam menjalankan tugas, kehidupan, hubungan pertemanan, usaha bisnis, dan sebagainya. Foto: Istimewa

TROPIS.CO, JAKARTA – Tulisan ini merupakan refleksi pengalaman menjadi fasilitator pada kegiatan e-learning pendamping perhutanan sosial yang diselenggarakan sejak akhir April hingga pertengahan Juni 2020.

“Tahukah teman-teman apa makna kata role model?”

Itu pertanyaan pertama yang selalu saya lontarkan ketika memulai kelas “Role Model Pendampingan Perhutanan Sosial”.

Mengingat peserta pelatihan adalah orang dewasa, saya berusaha menerapkan prinsip pembelajaran andragogi dengan metode people-centre dalam proses belajar-mengajar. Itu sebabnya saya kerap melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk memancing respon peserta agar tercipta suasana interaktif.

Begitu pertanyaan itu tertangkap oleh sinyal-sinyal otak para peserta. Wajah-wajah berpikir, mulai terlihat di layar.  Biasanya, hingga beberapa saat, tidak ada suara yang terdengar untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Awalnya saya fikir, itu salah satu kendala dalam proses belajar virtual teleconfrence.  Jeda waktu merupakan hal yang harus diantisipasi.  Begitu seseorang berbicara, suara yang dihasilkan akan segera bertanformasi menjadi kode binary, melesat pesat pada ruang udara, dan tercodifikasi lagi menjadi bentuk suara di perangkat elektronik penerima.

Tapi fikiran saya selanjutnya menyanggah, kecanggihan teknologi saat ini, telah membuat proses itu berjalan secepat kilat.  Jadi jika peserta tidak merespon sekian lama, itu bukan karena faktor jarak dan kendala teknologi,  bukan juga karena faktor teknis sinyal dan jaringan, tetapi karena memang peserta belum punya jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

“Baiklah, kalau begitu saya ganti dengan pertanyaan baru.”

“Apakah teman-teman sebelumnya pernah mendengar istilah role model?”

Dan agar segera mendapat respon peserta, saya ubah strategi dari yang semula menunggu jawaban sukarela, menjadi gaya ala-ala otoriter…hehe.  Saya minta salah satu peserta untuk menjawab.

Pilihan, saya jatuhkan kepada peserta perempuan yang terlihat antusias menatap layar hp.  Begitu mendengar namanya dipanggil, ibu di seberang sana tersenyum simpul, kemudian dengan sigap menghidupkan tombol microphone.

“Sudah pernah, bu’e” terdengar gaya khas panggilan bu’e ala Kalimantan-nya.

“Tapi saya tahunya baru kemarin, waktu mengerjakan tugas mandiri di LMS.”

Demi mendengar jawaban jujur peserta tersebut, sontak suasananya ceria menguar di kelas maya itu.

“Alhamdulilah, lega saya mendengar jawaban ibu,” sahutku segera dan pastinya ikut tersenyum simpul.

“Pertama, saya senang karena ibu pernah mendengar kata role model, dan kedua karena ibu menjawab apa adanya.” “Itu artinya kelas pelatihan ini bisa dijalankan dengan santai tanpa rasa cemas,” lanjutku.