Kurangi BBM untuk Listrik, Balibang ESDM Kaji Manfaatkan CPO untuk PLTD

42
Penggunaan minyak sawit murni atau crude palm oil (CPO) di pembangkit listrik tenaha diesel (PLTD) ini diharapkan dapat mengurangi pemakaian BBM secara signifikan. Foto: Asian Agri
Penggunaan minyak sawit murni atau crude palm oil (CPO) di pembangkit listrik tenaha diesel (PLTD) ini diharapkan dapat mengurangi pemakaian BBM secara signifikan. Foto: Asian Agri

TROPIS.CO, JAKARTA – Badan Litbang ESDM melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKEBTKE) memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni dari minyak sawit atau crude palm oil (CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020.

Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis, Yudo Dwinanda Priaadi menyampaikan bahwa Indonesia masih memiliki banyak ruang untuk migrasi BBM ke bahan bakar nabati.

Jika 50 persen jumlah PLTD milik PLN atau lebih dari 2.000 PLTD dapat dialihkan menggunakan CPO, tentunya PT PLN (Persero) dapat menekan biaya BBM cukup besar.

“Pemerintah juga diuntungkan, karena dapat menghemat anggaran subsidi listrik yang semakin meningkat dari tahun ke tahun” kata Yudo dalam siaran persnyam Sabtu (8/8/2020).

Sementara Kepala P3TKEBTKE Chrisnawan Anditya, kajian ini dilatarbelakangi masih tingginya penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk PLTD dan PLTMG (pembangkit listrik tenaga minyak dan gas).

Baca juga: Rencana B40 Kembali Bergulir

Data statistik menunjukkan bahwa pemakaian BBM di pembangkit PLN pada tahun 2018 sekitar empat juta kilo liter.

“Pemakaian BBM tersebut diperkirakan akan meningkat 960 ribu kilo liter per tahun, dengan tambahan PLTMG baru dengan total kapasitas sebesar 520 MW selama 2019 hingga 2028,” ungkap Chrisnawan.

Penggunaan BBM pada PLTD ini berdampak cukup besar pada biaya operasional PLN.