KLHK Gelar Bebersih Sungai Ciliwung

18
Direktur Jenderal PPKL M.R Karliansyah (kedua dari kiri) bersama Wali Kota Bogor Bima Arya (ketiga dari kiri) memimpin kegiatan Bebersih Sungai Ciliwung. Foto: KLHK
Direktur Jenderal PPKL M.R Karliansyah (kedua dari kiri) bersama Wali Kota Bogor Bima Arya (ketiga dari kiri) memimpin kegiatan Bebersih Sungai Ciliwung. Foto: KLHK

TROPIS.CO, BOGOR – Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2020 yang jatuh setiap tanggal 21 Februari, Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen PPKL KLHK) bersama masyarakat Kota Bogor bergotong royong membersihkan Sungai Ciliwung di kawasan Babakan Pasar, Bogor Tengah, Jawa Barat.

Sebanyak 500 orang turun langsung membersihkan sungai dan sempadan yang terdiri dari para pegawai Ditjen PPKL KLHK, Pemerintah Kota Bogor, masyarakat, Komunitas Peduli Ciliwung, Star Energy Geothermal, PT Kalbe Farma Tbk, PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), PT Indonesia Power, dan Organisasi Wanita Wirawati Catur Panca. Direktur Jenderal PPKL, M.R Karliansyah bersama Walikota Bogor, Bima Arya, memimpin langsung kegiatan tersebut.

Tahun 2019 lalu, Ditjen PPKL melaksanakan kegiatan Bebersih Sungai Ciliwung yang mendapatkan Rekor MURI yaitu bersih sungai dari hulu hingga hilir secara serentak dengan jumlah peserta lebih dari 10.000 orang.

Momentum HPSN Tahun 2020 ini dimanfaatkan untuk melakukan kampanye aksi nyata dan edukasi kepada masyarakat yaitu membersihkan sampah di sepanjang sungai.

Baca juga: Presiden Joko Widodo: Tanaman Vertiver Mesti Miliki Fungsi Penghijauan dan Ekonomi

Penurunan kualitas air sungai diantaranya disebabkan oleh limbah organik dari sumber domestik dan industri.

Paradigma masyarakat yang masih menganggap sungai sebagai tempat pembuangan sampah, limbah rumah tangga, limbah usaha skala kecil dan limbah industri mengakibatkan kualitas air sungai menurun, dan pendangkalan sungai akibat sedimentasi sampah.

Kegiatan Bersih Sungai ini adalah bagian dari kolaborasi antara masyarakat, komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan generasi muda sebagai rangkaian kegiatan peringatan HPSN Tahun 2020 yang mengusung tema “Indonesia Bersih, Indonesia Maju, Indonesia Sejahtera”.

Setelah dilakukan pembersihan sungai dari sampah, peserta mengumpulkan dan menimbang sampah untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan sampah (TPS) untuk dikelola.

Konsep pengelolaan lingkungan sungai selain dengan menjaga kebersihan dari sampah, juga dilakukan dengan membangun Ekoriparian.

Ekoriparian adalah perbaikan kualitas air sungai dengan memanfaatkan sempadan sungai melalui restorasi baik hidrologi, ekologi, morfologi dan sosial ekonomi budaya maupun peraturan dan kelembagaan tergantung dari kondisi segmen yang akan dilakukan restorasi.

Sempadan sungai ditingkatkan kualitasnya dengan membuat ekowisata sungai dan taman-taman umum untuk mengembalikan kawasan hijau di sepanjang bantaran sungai.

Saat ini, ekoriparian yang sudah dibangun oleh KLHK terdapat di dua tempat yaitu di Ekoriparian Ciliwung Srengseng Sawah dan Ekoriparian Telukjambe Karawang.

Pembangunan Ekoriparian oleh KLHK yang bekerjasama dengan komunitas-komunitas telah mengkombinasikan konsep restorasi riparian ini dengan upaya penurunan beban pencemaran dari limbah domestik dan menjadikan tempat tersebut sebagai pusat edukasi lingkungan berbasis ekoriparian.

Untuk itu, pada kesempatan ini dilakukan soft launching pembangunan Ekoriparian Babakan Pasar.

Fasilitas yang akan dibangun menggunakan konsep Ruang Budaya dan Lingkungan.

Ekoriparian menjadi wadah interaksi sosial masyarakat, penataan vegetasi dan bangunan lanskap dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan sempadan sungai.

Baca juga: Dukungan Standardisasi untuk Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Sampah

Nantinya selain membangun fasilitas pengelolaan lingkungan juga akan dibangun Ruang Budaya Tionghoa dan Budaya Sunda.

Pendekatan bentuk ini bertujuan agar tercipta keterhubungan bentuk arsitektural Sunda dan Tionghoa yang akan diimplementasikan secara tematik pada elemen lanskap ekoriparian Kelurahan Babakan Pasar.

Lokasi ini masih sangat kental dengan nilai-nilai pluralisme dari suku, budaya, dan agama.

Fasilitas wisata berbasis lingkungan yang akan dibangun yaitu ruang pembibitan (nursery)/kebun bibit desa, jogging track, taman bermain, hidroponik, saung untuk kegiatan masyarakat, serta instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Dengan pengembangan ini diharapkan bisa merubah perilaku masyarakat setempat untuk peduli ke lingkungan dan akhirnya bisa meningkatkan kualitas air sungai.

Dari kegiatan ini pula diharapkan banyak pengunjung yang datang dan bisa diterapkan pula di daerah lain.

Direktorat Jenderal PPKL bersama dengan Komunitas Peduli Sungai Ciliwung berinovasi dalam hal pengelolaan lingkungan di kawasan sungai yaitu dengan Program Patroli Sungai.

Program berupa database dan aplikasi Patroli Sungai bekerja sama dengan Komunitas Peduli Ciliwung, Yayasan Sahabat Ciliwung, dan Sahabat Citarum.

Konsep Patroli Sungai ini adalah naturalisasi Sungai Ciliwung di Bogor yang bermula dari inisiasi Tim Satgas Komunitas Peduli Ciliwung (KCP) Bogor.

Aksi kegiatan bersih Sungai Ciliwung dilakukan setiap hari Sabtu oleh KCP Bogor.

Pemerintah Kota Bogor dalam hal ini Walikota menyambut baik aksi ini dan mengajak untuk ikut menata Sungai Ciliwung di Bogor.

Patroli sungai, diketuai langsung oleh Wali Kota Bogor Bima Arya, terbentuk melalui SK Tim Satgas Naturalisasi Sungai Ciliwung.

Patroli sungai melakukan bersih sungai, pemetaan sampah, serta mengedukasi masyarakat melalui pendampingan.

Selain di Bogor, patroli sungai juga sudah dilakukan di Komunitas Ciliwung Depok dan Sahabat Lingkungan Karawang.

Relawan Patroli Sungai menjadi satgas yang masuk ke dalam program pengawasan dan pengendalian beban pencemaran (Program Prokasih).

Konsep pengelolaan dan perlindungan lingkungan sungai selain menjadi sarana edukasi bahwa sungai bukan hanya memberikan fungsi ketersediaan air dan sumber daya alam lain dari kelengkapan ekosistemnya, tetapi juga mempunyai fungsi ekonomi dan sosial budaya yang bermanfaat untuk menumbuh kembangkan kesadaran akan betapa bermanfaat dan pentingnya sungai dengan kualitas air dan lingkungan yang bersih dan sehat bagi keberlanjutan kehidupan. (*)