Kinerja Positif di Tahun 2019, Optimistis Tatap 2020

29
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono optimistis prospek industri sawit Indonesia di tahun 2020 bakal cerah. Foto: Gapki
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono optimistis prospek industri sawit Indonesia di tahun 2020 bakal cerah. Foto: Gapki

TROPIS.CO, JAKARTA – Tahun 2019 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi industri sawit Indonesia Implementasi RED II oleh EU yang menghapuskan penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku bioidiesel, perbedaan tarif impor produk minyak sawit Indonesia ke India, kemarau yang berkepanjangan, perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok, serta harga crude palm oil (CPO) yang terus menurun merupakan tantangan utama yang dihadapi industri sawit hampir sepanjang tahun 2019.

Walau ada tantangan, di tahun 2019, industri sawit Tanah Air memperlihatkan kinerja positif sekaligus memunculkan rasa optimistis dalam menatap tahun 2020.

Ada beberapa yang fakta yang memperlihatkan hal tersebut, seperti produksi minyak sawit Indonesia di tahun 2019 naik mencapai 51,8 juta ton atau sekitar 10 persen lebih tinggi dari produksi tahun 2018.

“Total 51,8 juta ton itu terdiri dari 47,1 juta ton berupa crude palm oil (CPO) dan 4,7 juta ton berupa palm kernel oil (PKO).”

“Tahun 2018 produksi CPO Indonesia hanya 43 juta ton dan PKO 4,6 juta ton,” tutur Ketua Umum Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Joko Supriyono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/2/2020).

Selain itu, menurutnya, volume ekspor produk sawit tahun 2019 sebesar 35,7 juta ton naik 4 persen dari ekspor 2018.

Nilai ekspor produk minyak sawit termasuk oleokimia dan biodiesel 2019 diperkirakan mencapai US$19 miliar.

Baca juga: Surplus Perdagangan Indonesia dengan Belanda US$2,5 Miliar, 35 Persennya Berkat Ekspor CPO

Nilai ekspor ini sekitar 17 persen lebih rendah dari ekspor produk minyak sawit tahun 2018 yang nilainya sebesar US$23 miliar.

Destinasi utama ekspor produk minyak sawit tahun 2019 selain oleokimia dan biodiesel Indonesia adalah Tiongkok (6 juta ton), India (4,8 juta ton), dan Uni Eropa (4,6 juta ton).

Khusus untuk produk oleokimia dan biodiesel, ekspor terbesar adalah ke Tiongkok (825 ribu ton) diikuti oleh Uni Eropa (513 ribu ton).

Ekspor minyak sawit ke Afrika yang naik 11 persen pada 2019 dari 2,6 juta ton pada 2018 menjadi 2,9 juta ton dan menunjukkan tren meningkat dari tahun ke tahun memberikan sinyal positif bagi untuk pasar produk minyak sawit Indonesia.

Tahun 2019 yang penuh tantangan ditutup dengan harga yang melonjak diatas US$800/ton CIF Rotterdam dan penyamaan tarif impor minyak sawit Indonesia di India.

“Situasi finansial yang baik ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pekebun terutama untuk membiayai pemulihan tanaman dan infrastruktur yang mungkin pemeliharaannya tertinggal ketika harga rendah,” ujar Joko.

Sementara itu, walau ada kecemasan importir terkait pelaksanaan implementasi B30 akan berdampak pada turunnya ketersediaan minyak sawit Indonesia untuk ekspor, ada fakta yang menggembirakan dari penerapan kebijakan pemerintah ini.

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengungkapkan bawha produksi biodiesel tahun lalu terpakai mencapai 6,7 juta kiloliter (kl) sehingga menghemat devisa untuk impor solar sebesar US$3,8 miliar.

“Di tahun 2020, dalam implentasi B30 ada beberapa tantangan yang dihadapi yakni peningkatan kualitas dan ketersediaan transportasi.”

“Pasalnya, ada peningkatan volume yang melonjak sampai 50 persen serta sulitnya mencari transportasi yang sesuai dan tersertifikasi untuk bahan bakar,”

“Selain itu, perlu adanya penambahan tangki timbun atau storage dan peningkatan kapasitas pelabuhan dan kami berharap ke depan makin baik dan lancar.”

“Di tahun 2020, diperkirakan biodiesel yang terpakai untuk konsumsi dalam negeri mencapai 9,6 juta kl dan itu diperkirakan akan menghemat devisa US$5,4 miliar,” ucap Paulus.

Prospek Tahun 2020

Memasuki tahun 2020, industri sawit Indonesia dikaruniai dengan kondisi iklim yang membaik dan harga yang cukup tinggi.

Menurut BMKG, iklim tahun 2020 akan normal dan lebih baik daripada iklim 2019, musim kemarau diperkirakan akan dimulai pada bulan April-Mei.

Komitmen pemerintah untuk mengimplementasi B30 pada 2020, menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia sangat serius dan dampaknya akan sangat berpengaruh terhadap perdagangan minyak nabati dunia dan perdagangan minyak di dalam negeri.

Kebutuhan dalam negeri 2020 diperkirakan mencapai 8,3 juta ton untuk biodiesel yang mungkin akan berpengaruh pada ketersediaan produk minyak sawit untuk ekspor.

“Meskipun kondisi ekonomi dunia tahun 2020 masih belum menentu, situasi politik di Timur Tengah masih panas, perang dagang AS dan Tiongkok belum berakhir, masih adanya tuntutan sustainability di EU; peningkatan penggunaan biofuel di dalam negeri, semakin banyaknya perusahaan yang bersrtifikasi ISPO dan terbukanya tujuan-tujuan ekspor baru akan lebih menjamin pasar minyak sawit Indonesia di pasar global sehingga Gapki tetap optimis pada tahun 2020 industri sawit Indonesia tetap memiliki prospek yang baik,” papar Joko

Baca juga: Instiper dan Astra Agro Tandatangani Nota Kesepahaman Riset dan Inovasi Industri Kelapa Sawit

Memperhatikan tantangan tantangan peluang pasar ekspor maupun domestik dalam negeri serta adanya iklim usaha yang lebih berpihak kepada peningkatan investasi, maka program kerja seluruh stakeholder sawit tahun 2020 perlu difokuskan pada peningkatan produktivitas baik melalui perbaikan teknik produksi maupun replanting.

Mendorong percepatan implementasi sustainability/ISPO, mendorong pengembangan ekspor terutama di negara tujuan ekspor baru dan penanganan berbagai hambatan perdagangan di pasar global.

Terakhir, meningkatan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap minyak sawit dan produk turunannya serta memperluas dan mengembangkan kampanye positif sawit yang efektif, baik di dalam negeri maupun di berbagai negara tujuan ekspor utama.

“Dengan memperhatikan berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi pada tahun 2020 serta dukungan pemerintah yang sangat besar terhadap industri sawit maka Gapki optimistis tahun 2020 industri kelapa sawit akan lebih baik dari tahun 2019,” pungkas Joko. (*)