Isu Eksploitasi Pekerja Wanita Adalah Kampanye Hitam Tanpa Fakta Objektif

16
Isu eksploitasi pekerja perempuan merupakan kampanye hitam dan sebuah tuduhan yang tidak didasari fakta-fakta objektif terhadap industri sawit Indonesia. Foto: TROPIS.CO/Jos
Isu eksploitasi pekerja perempuan merupakan kampanye hitam dan sebuah tuduhan yang tidak didasari fakta-fakta objektif terhadap industri sawit Indonesia. Foto: TROPIS.CO/Jos

TROPIS.CO, JAKARTA – Setelah isu kebakaran lahan, sejumlah LSM (lembaga swadaya masyarakat) asing dengan dukungan sejumlah media Barat mendiskreditkan industri sawit dengan isu eksploitasi pekerja perempuan merupakan kampanye hitam dan sebuah tuduhan yang tidak didasari fakta-fakta objektif terhadap industri sawit Indonesia.

“Perusahaan sawit di Indonesia, terutama yang menjadi anggota GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), tidak mungkin melakukan praktik ketenagakerjaan yang melanggar Undang-Undang dan prinsip serta kriteria di dalam ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil),” kata Sumarjono Saragih, Ketua Bidang Ketenagakerjaan GAPKI, dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Kamis (19/11/2020).

Sumarjono memastikan industri sawit Indonesia sudah mampu menciptakan iklim kerja yang kondusif dan layak bagi para pekerjanya.

Bahkan, GAPKI telah bekerja sama dengan ILO (Organisasi PBB untuk Urusan Pekerja) dan sejumlah LSM internasional untuk membangun sistem ketenagakerjaan yang layak (decent work) di sektor perkebunan kelapa sawit.

Baca juga: Industri Sawit Meningkat Pesat dan Berkontribusi Besar bagi Ekonomi Indonesia

“Berita yang awalnya di-viralkan oleh kantor berita Amerika Serikat yaitu AP (Associated Press) tersebut sangat bias, tendensius, dan tidak memenuhi azas both side coverage,” ungkapnya.

Sejak pandemi Covid-19 yang terjadi pada Maret 2020, perusahaan-perusahaan sawit anggota GAPKI melaksanakan protokol kesehatan yang ketat di mana akses keluar masuk ke dalam kebun dibatasi.

Jika wartawan kantor berita AP benar-benar terjun ke lapangan, apakah benar mereka masuk ke dalam kebun perusahaan mengingat akses yang terbatas sejak pandemik covid-19.

“Seandainya wartawan AP masuk ke dalam kebun perusahaan sawit anggota GAPKI, mereka pasti akan mendapatkan fakta lapangan yang lebih objektif,” ujar Sumarjono.