Indonesia Segera Impor Macadamia

58
Kacang macadamia peluang ekspor yang menjanjikan devisa. Foto : www.inibaru.id
Kacang macadamia peluang ekspor yang menjanjikan devisa. Foto : www.inibaru.id

TROPIS.CO, SILANGIT – Indonesia segera mengimpor benih kacang macadamia integrifolia sebanyak 6,5 ton atau sedikitnya 780 ribu biji benih dari Australia.

“Benar kita akan impor, volumenya kurang lebih 6,5 ton,” kata Direktur Pembibitan Direktorat Jenderal Pengelola Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Mintardjo menjawab TROPIS.CO di sela-sela pencanangan pengembangan macadamia untuk Rehabillitasi Hutan dan Lahan (RHL), di Huta Ginjang, Muara Tapanuli Utara, Kamis (27/6/2019).

Mintardjo mengatakan, pemerintah mengalokasikan kegiatan dan anggarannya.

Adapun pelaksana importirnya diserahkan pada pihak lain sebagai penyedia benih.

Disebutkan PT Inhutani IV, anak perusahaan Perhutani, telah ditetapkan sebagai operator importir benih macadamia untuk kebutuhan rehabilitasi hutan dan lahan di Indonesia.

Pemerintah Australia, telah mengisyaratkan akan memberikan kemudahan dan dukungan terhadap rencana impor macadamia dalam bentuk nut shell.

Sembilan BPDAS

Impor benih sebanyak 6,5 ton atau sekitar 780.000 biji ini.

Menurut Mintardjo, sebagai persiapan bibit penanam pada areal seluas 500 hektare di sembilan kawasan Balai Pengendalian Daerah Aliran Sungai (BPDAS) yang diperkirakan membutuhkan sedikitnya 600.000 bibit macadamia.

Adapun kesembilan BPDAS yang akan mengembangkan tanaman macadamia pada kegiatan RHL nya, mencakup BPDASHL Asahan Barumun, BPDASHL Wampu Sei Ular di Sumatera Utara, dan BPDASHL Agam Kuantan di Sumatera Barat.

Kemudian, BPDASHL Way Seputih Way Sekampung di Lampung.

BPDASHL Citarum Ciliwung dan BPDASHL Cimanuk Citanduy di Jawa Barat,

Lalu BPDASHL Serayu Opak Progo, di DI Yogjakarta.

BPDASHL Pemali Jratun di Jawa Tengah dan BPDASHL Jeneberang Saddang di Sulawesi Selatan.

Dilakukan Penelitian

Dalam rangkaian pemanfaatan kacang macadamia, sejak beberapa tahun silam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah melakukan penelitian terhadap komoditas asal Australia Timur ini di sejumlah Balai Penelitian Kehutanan.

Salah satunya di Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli, di kebun percobaan Sipiso Piso seluas 2 hektare.

Kini tanaman kacang macadamia sudah berproduksi dan hasilbya sudah diolah menjadi makanan, sebagai konsumsi camilan.

Menurut penuturan Dani, staf peneliti di Balitbang Aek Nauli, hasil penelitian tidak memiliki perbedaan jauh dengan macadamia di alam awalnya, Australia.

Memang pertumbuhan awal dalam dua tahun pertama terkesan lamban.

Dan juga dari rasa, ada sedikit beda, terasa lebih gurih.

Namun soal rasa, kata Dani, bukan faktor alam, tapi mungkin lebih dikarenakan proses pengolahannya.

KLHK merancang pengembangan kacang macadamia sebagai tanaman RHL, lebih dikarenakan jenis tanaman, memiliki sejumlah keunggulan ketimbang tanaman lain.

Bahwa dalam rangkaian mempercepat kesejahteraan masyarakat, terutama di kawasan hulu DAS yang menjadi Daerah Tangkapan Air (DTA), dirancang jenis tanaman rehabilitasi yang dikembangkan, tidak hanya memiliki nilai ekologis tapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi.

Dan untuk saat ini pilihannya adalah kacang macadamia.

Jenis kacang ini tahan terhasap api sehingga terhindar dari kemusnahan karena kebakaran dan kekeringan.

Di sejumlah daerah, seperti di kawasan Danau Toba, macadamia sudah ditanam.

Hanya sayang tidak bisa dikonsumsi karena jenis yang ditanam macadamia beracun.

“Masyarakat menanamnya sebagai pagar dan sekat bakar.”

“Danau Toba atau juga mungkin di daerah dataran tinggi lain, tanaman macadamia sudah memasyarakat.”

“Mungkin kalau dibanding tanaman sawit, mengembangkan kacang macadamia lebih menguntungkan,” kata Mintardjo. (*)