Indonesia dan IEA Gelar Seminar Energi Terbarukan di Paris

33
Para peserta memandang penyelenggaraan seminar sangat bermanfaat dalam meningkatkan
Para peserta memandang penyelenggaraan seminar sangat bermanfaat dalam meningkatkan "outreach" MIKTA ke berbagai perwakilan asing di Paris, kalangan universitas dan "think tank", serta pelaku ekonomi swasta di bidang energi. Foto : Kementerian Luar Negeri

TROPIS.CO, PARIS – Indonesia sebagai negara koordinator MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia) bekerja sama dengan International Energy Agency (IEA) menyelenggarakan seminar tentang energi terbarukan di Paris, Prancis, Selasa (18/12/2018).

Sebanyak 50 peserta dari sejumlah kedutaan negara sahabat, akademisi, media, dan pelaku industri energi terbarukan hadir dalam Seminar on Renewable Energy and Energy Security: Interlinkages and Best Practices in the Transition to Renewable Energy, menurut keterangan dari KBRI di Paris yang diterima di Jakarta, Rabu (19/12/2018).

Seminar dibuka oleh Dubes RI di Paris, Hotmangaradja Pandjaitan, dan Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol.

Pembicara pada seminar ini mewakili lima negara MIKTA, yaitu: Ullises Neri (Counsellor for Energy, Permanent Representative of Mexico for OECD), Rudjimin (Counsellor Fungsi Ekonomi, KBRI Paris), Yong-Duk Pak (Senior Research Fellow, Korea Energy Economics Institute/KEEI), Halime Semerci (Head of Department, Ministry of Energy and Natural Resource, Turki), Jennifer Mackinlay (Senior Trade and Investment Commissioner, Australia), serta dari IEA yaitu Heymi Bahar (Renewable Energy Market Analyst).

Dalam sambutannya, Duta Besar Hotmangaradja Pandjaitan menyampaikan bahwa MIKTA sebagai “emerging powers” membutuhkan banyak energi untuk mendukung laju pertumbuhan perekonomian.

Di satu sisi, negara-negara MIKTA juga diharapkan dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fossil dan beralih kepada energi terbarukan.

Sementara itu, Fatih Birol menyampaikan bahwa negara-negara MIKTA memiliki potensi yang sangat besar untuk beralih pada energi terbarukan, dan mengolah energi yang digunakan saat ini menjadi energi bersih yang tidak menghasilkan emisi karbon yang tinggi.

Tiap pembicara menyampaikan bahwa setiap negaranya memiliki kebijakan yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama, yaitu meningkatkan penggunaan energi terbarukan guna mencegah perubahan iklim.

Kebijakan energi pemerintah yang mendukung segala sektor merupakan kunci keberhasilan transisi kepada energi terbarukan, dan dapat dilalui dengan adanya keterbukaan, dan komitmen bersama.

Untuk Korea, pemerintahan Presiden Moon Jae-in berfokus untuk mengurangi emisi sebanyak 30 persen dalam lima tahun, meregulasi kembali kebijakan nuklir di negaranya, dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan.

Australia menekankan pendekatan kepada pihak industri sebagai pihak yang harus selalu melakukan inovasi dan menciptakan teknologi yang dapat menghasilkan energi terbarukan dengan harga bersaing, untuk mencapai target diversifikasi energi pemerintah.

Terkait energi terbarukan, Meksiko nantinya akan meningkatkan pasokan energi terbarukan untuk mengurangi porsi 75 persen energi dari minyak dan gas alam saat ini.

Turki memiliki kebijakan Renewable Energy Zones yang dapat menggantikan 50 persen diversifikasi energi di Turki.

Sementara untuk Indonesia, dijelaskan bahwa pemerintah dalam arah untuk meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan pada 2025 dan 2030.

Pencapaian target bauran tersebut memperhatikan ketersediaan energi yang terjangkau bagi rakyat, komitmen Indonesia pada perubahan iklim, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi.

Dalam sesi diskusi, peserta seminar memberikan perhatian terhadap perkembangan kebijakan Indonesia, khususnya pengganti kebijakan feed-in tariff (FIT) dalam mendorong investasi infrastruktur energi di Indonesia.

Para peserta memandang penyelenggaraan seminar sangat bermanfaat dalam meningkatkan “outreach” MIKTA ke berbagai perwakilan asing di Paris, kalangan universitas dan “think tank”, serta pelaku ekonomi swasta di bidang energi.

Selain itu, seminar energi ini memberikan pemahaman terkait berbagai kebijakan energi yang diterapkan di lima negara anggota MIKTA.

Ketua MIKTA dipegang secara bergantian oleh kelima negara MIKTA (tingkat Menlu).

Sejak dibentuk pada 2013, Indonesia adalah negara ke-5 yang menjadi Ketua setelah Meksiko, Korea, Australia, dan Turki. Keketuaan MIKTA cycle ke-2 akan dimulai Meksiko pada 2019.

Untuk kerja sama di Prancis, peralihan posisi ketua dilakukan pada akhir seminar, di mana Dubes Pandjaitan menyerahkan keketuaan MIKTA 2019 kepada wakil Dubes Meksiko untuk Prancis. (*)