Entrepreneurs atau Founder’s Mindset Diterapkan BRI Guna Hadapi Revolusi Industri 4.0

15
Direktur Digital Teknologi Informasi dan Operasi PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Indra Utoyo mengungkapkan, entrepreneurs dalam perusahaan besar dibutuhkan sehingga memungkinkan para karyawan dapat berinovasi dan mengembangkan ide-ide digital yang mendukung arah perusahaan. Foto: ALUMNINGGRIS.COM
Direktur Digital Teknologi Informasi dan Operasi PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Indra Utoyo mengungkapkan, entrepreneurs dalam perusahaan besar dibutuhkan sehingga memungkinkan para karyawan dapat berinovasi dan mengembangkan ide-ide digital yang mendukung arah perusahaan. Foto: ALUMNINGGRIS.COM

TROPIS.COM, JAKARTA – Dewasa ini, di era Revolusi Industri 4.0, dimana era yang semakin komplek, semakin tidak pasti dan semakin dalam, untuk menghadapi hal tersebut sebuah korporasi atau perusahaan besar membutuhkan cara berpikir atau mindset yang benar.

Entrepreneurs (founder’s mindset) dinilai dibutuhkan dalam lingkungan korporat atau perusahaan besar untuk menghadapi era ini.

Pandangan itu disampaikan oleh Direktur Digital Teknologi Informasi dan Operasi PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Indra Utoyo di Jakarta belum lama ini.

Entrepreneurs dalam perusahaan besar dibutuhkan sehingga memungkinkan para karyawan dapat berinovasi dan mengembangkan ide-ide digital yang mendukung arah perusahaan.

Cara berpikir atau mindset ini telah diterapkan di lingkungan BRI, salah satunya dengan dibentuknya beberapa skuat-skuat produk, dimana setiap skuat tersebut terdapat founder-founder yang memikirkan bagaimana mengembangkan dan keberlanjutan produk yang mereka buat.

Baca juga: Pencegahan Karhutla Tetap Prioritas

Tidak berhenti di situ saja, BRI juga memiliki program berkelanjutan untuk mencetak founder-founder baru atau para entrepreneur baru di dalam perusahaan melalui program BRIDREAM.

Dalam program BRIDREAM para talent BRI diberikan pembekalan terkait digital mindset and founder mindset, sehingga diharapkan muncul inovasi-inovasi baru, founder-founder baru dengan membawa product fit dengan consumer.

“Kami memberikan kesempatan luas pada karyawan berinovasi melahirkan ide-ide baru, tidak perlu merasa takut salah dalam melontarkan inovasi- inovasi.”

“Jika terdapat inovasi yang fit perusahaan tidak ragu untuk membiayai inovasi tersebut,” ungkap pria lulusan Imperial College London tersebut.

Tak heran bila BRI mampu meraih berbagai penghargaan bergengsi di level internasional di tahun 2019 ini, antara lain The Best Digital Bank in Indonesia 2019 by The Asian Banker, dan Global Data Impact Awards 2019 by Cloudera.

BRI menjadi satu-satunya bank dari Indonesia yang memperoleh penghargaan bergengsi berskala internasional dari majalah ekonomi terkemuka di Asia, yaitu The Asian Banker.

Berdasarkan rilis resmi dari The Asian Banker, terpilihnya Bank BRI sebagai Best Digital Banking in Indonesia tak lepas dari prestasi perseroan, dimana BRI dinilai mampu melakukan sejumlah inovasi digital yang mampu meningkatkan kinerja operasional hingga 30 persen dan menekan lebih dari 10 persen beban operasional.

Sejumlah inovasi itu, yakni implementasi application programing interface (API) kepada pihak ketiga secara eksklusif, peluncuran digital startup dan e-commerce (Indonesia Mall), peluncuran platform digital lending untuk memacu pembiayaan (Pinang), dan pengembangan agen branchless banking, serta peluncuran personal virtual assistant (sabrina).

Institusi Keuangan Mikro Terbesar di Dunia

Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai institusi keuangan mikro terbesar di dunia, dimana memiliki nasabah sekitar 75,7 juta jiwa.

BRI juga mempunyai aset mencapai US$90,20 miliar atau sekitar Rp1269,2 triliun (per Juni 2019), serta menjadi satu-satunya bank di dunia yang memiliki satelit yang diberi nama BRIsat sehingga dapat menjangkau hingga pelosok negeri.

Sebagai salah satu bank papan atas di Tanah Air, BRI juga tak bisa menghindar dari Revolusi Industri 4.0 yang mempengaruhi setiap individu dan lembaga dari
sektor multi industri untuk berkolaborasi dan berintegrasi, dimana antara dunia physical dan virtual melebur menjadi satu seperti kehidupan Avatar.

Antarindustri akan semakin melebur contohnya, sistem transportasi dengan sistem perbankan sudah melebur; tol bisa bermasalah jika system pembayarannya bermasalah. Demikian juga dengan naik MRT, KRL, dan busway.

Oleh sebab itu, transformasi digital menjadi agenda bagi setiap lembaga pemerintahan maupun dunia usaha jika tetap ingin relevan bagi stakeholders-nya.

Namun, era transformasi dan disrupsi digital saat ini, tidak hanya membawa hal yang “exciting”, di saat yang bersamaan era digital membawa hal yang “scary” atau ‘menakutkan’ jika tidak diantisipasi dengan memadai.

Risiko baru dunia siber sangat kompleks, pola ancaman semakin dinamis, fraudster sangat inovatif, cepat, dan membentuk jejaring.

“Berdasarkan data dari Accenture, rata-rata kerugian per tahun yang dialami industri perbankan akibat kejahatan siber pada tahun 2017 mencapai US$16,55 juta dan jumlah itu meningkat menjadi US$18,37 juta di tahun 2018.”

“Secara keseluruhan kejahatan siber meningkat 67 persen dalam jangka waktu lima tahun belakangan ini,” ucap Indra.

Lanskap Ancaman Kejahatan Siber

Menurutnya, ada beberapa lanskap ancaman kejahatan siber dalam servis finansial.

Pertama, penggunaan API yang terkoneksi dengan pihak ketiga memunculkan risiko kejahatan siber baru.

Kedua, perangkat mobile seperti smartphone, tablet, laptop, hingga komputer pribadi menambah jumlah dan jenis perangkat yang bisa diserang kejahatan siber.

“Ketiga, kemitraan berupa konvergensi penggabungan atau pengintegrasian teknologi informasi antar sektor juga memunculkan risiko serangan kejahatan siber.”

“Keempat, konektivitas digital memperbesar eksposure data-data penting melalui adopsi sistem digital dan antar konektivitas sehingga rentan terhadap serangan siber.”

“Kelima, kecanggihan malicious software atau malware (suatu program yang dirancang dengan tujuan untuk merusak dengan menyusup ke system komputer) berkembang pesat sehingga melampaui kemampuan pertahanan yang ada saat ini,” cetus Indra.

Salah satu kiat BRI untuk menghadapi serangan dan kejahatan siber adalah membangun Digital Trust, salah satunya dengan pengelolaan big data yang diharapkan dapat meningkatkan layanan, keamanan, serta kinerja perusahaan.

Baca juga: Telkomtelstra Sediakan Layanan Managed Services Kelas Dunia

Big data merupakan salah satu elemen yang fundamental bagi BRI dalam memberikan pelayanan kepada nasabahnya.

Adanya big data analitik yang memanfaatkan machine learning bisa sangat membantu untuk fraud detection, credit scoring, dan merchant assessment.

Oleh karena itu, pengelolaan big data yang sesuai standar internasional merupakan hal yang harus terus dijaga oleh Bank BRI.

“Bank BRI bersyukur big data yang kami kelola berhasil meraih sertifikasi ISO27001 dan diakui oleh dunia dengan mendapatkan penghargaan Global Data Impact Awards 2019 by Cloudera.”

“Capaian ini akan menjadi semangat kami untuk terus memelihara dan juga meningkatkan tata kelola big data yang dimiliki,” pungkas Indra optimistis. (*)