BI Bantu Pengembangan Komoditas Kopi Arabica di Solok

171
Luas lahan perkebunan kopi di Solok saat ini mencapai 6.900 hektare untuk jenis Arabica dan 11.000 hektare untuk Robusta. Foto : kinhtevadubao.vn
Luas lahan perkebunan kopi di Solok saat ini mencapai 6.900 hektare untuk jenis Arabica dan 11.000 hektare untuk Robusta. Foto : kinhtevadubao.vn

TROPIS.CO, PADANG – Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan komitmen dan dukungan untuk ikut mengembangkan komoditas perkebunan kopi Arabica di Kabupaten Solok sebagai salah satu sektor unggulan yang sedang digarap oleh pemerintah setempat.

“Kami melihat kopi arabika di Solok memiliki potensi besar untuk ekspor dan sebagian kebun dimiliki masyarakat, kalau diberikan pendampingan untuk meningkatkan kualitas akan meningkatkan perekonomian,” kata Kepala BI perwakilan Sumbar Endy Dwi Tjahjono di Padang, Sumbar, Jumat (30/11/2018).

Ia menyampaikan hal itu usai penandatanganan nota kesepahaman antara BI Sumbar dengan Pemerintah Kabupaten Solok tentang kerja sama pengembangan ekonomi dan keuangan yang dihadiri Bupati Solok Gusmal.

Menurutnya, BI berkepentingan untuk meningkatkan volume ekspor karena memiliki nilai strategis tidak hanya bagi petani, namun juga bagi pengembangan ekonomi daerah.

“Pengembangan kopi akan dilakukan secara terintegrasi, kami ingin merek kopi Solok lebih dikenal luas hingga mendunia sebagaimana beras Solok,” ujar Endy seperti dikutip Antara.

Ia mengatakan, BI akan memberikan berbagai bimbingan dan pelatihan kepada petani bagaimana mengolah biji kopi hingga pengolahan pascapanen sampai ke tahapan penyajian.

Tidak hanya itu, menurutnya, pada bidang keuangan BI akan membekali petani bagaimana melakukan pembukuan dan memfasilitasi dengan lembaga pembiayaan ekspor.

Sementara Bupati Solok Gusmal menyebutkan luas lahan perkebunan kopi di Solok saat ini mencapai 6.900 hektare untuk jenis Arabica dan 11.000 hektare untuk Robusta.

Gusmal menambahkan kendala lain adalah petani belum konsisten menanam kopi dan saat harga murah meninggalkan kebunnya.

Berdasarkan pantauan di pasaran harga kopi arabika Solok saat ini mencapai Rp120 ribu per kilogram .

Ia mengatakan BI akan memberikan berbagai bimbingan dan pelatihan kepada petani bagaimana mengolah biji kopi hingga pengolahan pascapanen sampai ke tahapan penyajian.

Tidak hanya itu, menurutnya, pada bidang keuangan BI akan membekali petani bagaimana melakukan pembukuan dan memfasilitasi dengan lembaga pembiayaan ekspor.

Kawasan yang dikembangkan untuk perkebunan kopi arabika meliputi tiga kecamatan yaitu Danau Kembar, Lembah Gumanti, dan Pantai Cermin.

“Ke depan yang akan dilakukan adalah memperluas areal perkebunan karena tingginya permintaan pasar dan mendidik masyarakat mau bertanam kopi,” tutur Gusmal.

Ia mengatakan bahwa BI akan membina dari sisi teknologi panen hingga pascapanen dan pemerintah daerah fokus membina petani.

“Saat ini permintaan dari luar negeri sudah banyak dan kendala yang dihadapi adalah produksi yang belum mampu memenuhi kebutuhan,” pungkas Gusmal. (*)