Awalnya Empat Orang, Kini Direksi Anak Holding BUMN Perkebunan Tinggal Satu Orang

14
Muhammad Abdul Gani menyatakan, holding akan memberikan arahan strategis serta melakukan pengawasan dan evaluasi, sedangkan anak perusahan fokus mengelola kegiatan operasional dalam memproduksi komoditi yang telah ditetapkan. Foto: Istimewa
Muhammad Abdul Gani menyatakan, holding akan memberikan arahan strategis serta melakukan pengawasan dan evaluasi, sedangkan anak perusahan fokus mengelola kegiatan operasional dalam memproduksi komoditi yang telah ditetapkan. Foto: Istimewa

TROPIS.CO, JAKARTA – Nomenklatur pada anak perusahaan Holding PT Perkebunan Nusantara dirombak total, bila sebelumnya ada empat kini tinggal satu anggota direksi.

Penciutan ini lebih menempatkan anak perusahaan hanya sebagai operasional yang diawasi dan dievaluasi langsung oleh holding.

“Perampingan ini sebagai bentuk optimalisasi proses transformasi dalam rangka memperkuat peran PTPN Group sebagai penopang ekonomi dan ketahanan pangan nasional.”

“Perombakan ini selaras dengan program perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya,” tutur Muhammad Abdul Gani, Direktur Utama Holding BUMN Perkebunan Nusantara itu, dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (26/5/2020).

Menurutnya, strukturisasi ini diharapkan mampu menciptakan soliditas organisasi yang kuat dalam mencapai tujuan perseroan serta lebih siap menghadapi tantangan bisnis baru ke depannya.

Apalagi, kini PTPN Group secara konsolidasian merupakan salah satu perusahaan perkebunan terbesar di dunia berdasarkan total lahan konsesi perkebunan seluas 1,17 juta hektare dengan komoditas yang beragam.

Areal seluas ini berada dalam naungan 14 anak perusahaan yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimnatan, dan Sulawesi.

Komoditas perkebunan yang dikelola BUMN Perkebunan Nusantara lebih dominan kelapa sawit yang luasnya sekitar 600 ribu hektare.

Tanaman lain, berupa karet seluas 146.345 hektare,  tebu seluas 62.583 hektare, serta perkebunan teh 30.512 hektare dan lainnya ada tanaman kopi, tembakau dan kakao.

Abdul Ghani mengatakan, sebenarnya transformasi bisnis ini merupakan serangkaian tahapan yang telah dilakukan sejak berdirinya holding, yakni pada tahun 2014 lalu.

Namun hingga saat ini belum ada hasil yang optimal yang terlihat baik dari sisi kinerja operasional, maupun keuangan.

Oleh karena itu, Holding Perkebunan Nusantara menetapkan enam program prioritas baru sebagai transformasi bisnis, yakni Operational Excellence, Restrukturisasi Organisasi dan Sumber Daya Manusia, Divestasi Aset, Optimalisasi Aset dan Kemitraan, Restrukturisasi Utang, serta Restrukturisasi Perusahaan.

“Jadi nantinya, holding memberikan arahan strategis serta melakukan pengawasan dan evaluasi, sedangkan anak perusahan fokus mengelola kegiatan operasional dalam memproduksi komoditi yang telah ditetapkan holding sehingga hasilnya akan lebih optimal,” ujar Muhammad Abdul Gani.

Karenanya, pergantian ini sejalan dengan program transformasi grup perusahaan yang berkomitmen untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan terus melakukan perubahan dalam mencapai target perusahaan sehingga dapat memberi kontribusi besar bagi perekonomian nasional. (*)