Arif, Nelayan Asal Beltim, Diterkam Buaya di Sungai Lenggang

60
Warga masih mencari tubuh korban yang hilang diterkam buaya di Sungai Lenggang, Belitung Timur. Foto : Istimewa
Warga masih mencari tubuh korban yang hilang diterkam buaya di Sungai Lenggang, Belitung Timur. Foto : Istimewa

TROPIS.CO, BELTIM – Arif, 50 tahun, seorang nelayan, warga Selinsing, Gantung, Belitung Timur (Beltim), Senin malam (17/6/2019), diterkam buaya di Sungai Lenggang dan hingga berita ini dibuat, korban belum ditemukan.

Darwis, putra korban, menceritakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.00 WIB, tatkala mereka baru sandar dari melaut di Sungai Lenggang.

Kala itu, ayah Darwis, Arif, mau menambatkan perahunya dan turun ke sungai.

Sebelumnya Arif sudah diperingatkan Darwis agar tidak turun ke sungai.

Namun, mungkin lantaran Arif menderita gangguan pendengaran sehingga apa yang disampaikan Darwis tidak didengarnya.

Lantas secara tiba-tiba, Arif diterkam buaya dari arah belakang.

“Saya sempat berusaha menolong, dan tarik menarik dengan buaya, tapi lepas sehingga kemudian ayah menghilang,” kisah Darwis.

Darwis kemudian berteriak minta tolong masyarakat sekitar Sungai Lenggang.

Masyarakat berdatangan, lalu kemudian bersama sama mencari korban.

Namun hingga larut malam korban belum ditemukan.

Akibat Tambang Ilegal

Sungai Lenggang yang panjangnya mencapai 73 kilometer, belakangan ini kondisi airnya sangat keruh dan telah mengganggu kehidupan satwa yang ada di dalamnya, termasuk buaya.

Keruhnya Sungai Lenggang dikarenakan adanya tambang timah inkonvensional rajuk (TI rajuk) ilegal yang digarap oleh oknum masyarakat.

Para oknum penambang ini sudah berulangkali ditertibkan oleh aparat pemerintah daerah.

Namun seakan mereka kebal hukum hingga penambangan ilegal terus berulang.

“Mereka tak lagi mengubris larangan yang pemda, bahkan aparat, mulai dari tingkat desa hingga bupati, seperti tak lagi bertaring,” ujar seorang warga.

Dari berbagai informasi yang diterima TROPIS.CO, kebalnya para oknum penambang ini karena pemilik berbagai perangkat TI rajuk itu, adalah oknum berseragam.

“Kondisi inilah yang membuat lingkungan di sebagian wilayah di Belitung ini semakin rusak, lantaran adanya oknum aparat yang bermain di tambang ilegal, sementara masyarakat hanya mengikut,” ujar seorang narasumber yang enggan disebut namanya itu. (*)