93 Tahun Usianya Aminah Namanya

256
Aminah nenek dagang tisu rentah
Walau usia sudah 93 tahun nenek Aminah masih gasit kondisi fisiknya sangat sehat, kesana kemari tanpa harus ditopang. Apa rahasianya nenek Aminah menyebut banyak jalan, maka ikan asin bakar.

 

TROPIS.CO, JAKARTA – Di Stasiun Sudimara. Mentari pagi merangkak naik. Sengatanya mulai terasa menusuk kulit. Semua berusaha bediri di tempat teduh.
Pun sama dengan nenek rentah. Kulit keriput yang membalut tubuhnya yang kecil, sepertinya tak kuat juga menghadang mentari yang menyengat tajam.
Namun sedikit beda, sengatan itu tak membuatnya gusar. Nenek itu tampak tenang, berdiri di dalam keramaian, menunggu comutter dari Serpong datang, langsir di Sudimara, hingga kemudian berangkat lagi menuju stasiun tanah abang.

Berbaju berukat coklat berbungkus kain merah serasi dengan kerudung, menutupi uban putih di kepala. Tas hitam lusu disandang di belakang, selendang nuansa bunga biru melingkar di leher.

Sedikitpun tak mengindikasikan lelah. Kaki yang beralas sandal jepit masih leluasa melangkah, tak harus dipapah tatkalah memasuki gerbong, ketika commuter tiba.

Sedikit beruntung Commuter itu tak terlampau sesak, walau kursi tak lagi tersisa. Nenek itupun dengan mudah masuk tanpa bantuan seorangpun.

Sungguh masih tampak kuat . Tak harus dipapah sebagaimana kebanyakan orang tua nan uzur. Tak merengek minta kasihan.

Seorang anak muda langsung sigap, berdiri mempersilahkan nenek duduk. Dan sang nenekpun duduk.”Terima kasih jang,”ucap nenek kepada anak muda itu.

Aminah, nama nenek berusia 93 tahun itu. Mengaku betawi asli, tinggal di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Ibu dari 3 anak, nenek dari 4 cucu atau atok dari sejumlah cicitnya.

“Alhamdulillah, saya masih bisa merasakan naik kereta seperti ini,”ujarnya.

Dulu juga ada kereta arah Serpong, bunyinya ciuut ciuut.. nunggu lamanya..
“Bukan..bukan batu bara, tapi kayu karet bahan bakarnya, “timpal seorang ibu disebelah Nenek ..mengiyakan ucapan Nenek sembari mengatakan “pakai batu bara”
Nenek mengaku jauh sebelum kemerdekaan Kereta Api sudah ada, dan sang nenek selalu menggunakan kereta. “Sekarang sudah enak..Alhamdulilah nenek masih bisa merasakan”
Aku coba menyapa dan memulai obrolan. Aku memang tidak kebagian tempat duduk..tapi berdiri sembari tangan memegang tali pengaman.
Dan aku berupaya ngobrol bersama nenek
selama perjalanan Sudimara – Palmerah. ” Nenek tinggal di mana…dan dari mana..,”tanyaku.
“Di Slipi…dari rumah keponakan di Sudimara,”jawabnya.
“Nenek nama siapa…uda berapa usia..masih sehat dan tegar begini,”
” Aminah..” …
“Oh..Mimunah..”
” Bukan….Aminah.”
” Aminah….usia udah berapa Nek.”
” 93 tahun..”
” Wah…hebat ..Nenek sangat sehat..gesit lagi, apa sih rahasianya hingga nenek bisa sampai berusia 93 tahun….dan terkesan sangat sehat.”
” Ya..jalan… jalan kayak begini…gentayangan.”
” Lalu ngapain tidak jalan terus.apa tidak capek.”
“Kadang nenek dagang..kadang jalan aja,”
“Dagang apa nek,”
” Dagang baju….dagang tisu…dagang kue
Nenek keliling.”
“Oh…itu di tas nenek ..dagangan,”
“Bukan….itu pakaian gantian,” sembari tangannya mendekap tas hitam di pangkuannya.
” Apa anak anak Nenek tidak marah..nenek dagang keliling,”
“Mereka tidak tahu….Nenek keluar rumah diam diam..ketika mereka masih tidur.”
“Ada berapa anak nenek …,”
” Tiga….”
“Kerjanya apa dan dimana”
“Itu…tukang bersih bersih kaca.:

Obrolan dengan Nenek Aminah mencuri perhatian banyak penumpang. Mereka terkagum dengan Nenek Aminah yang memiliki daya ingat yang masih tajam. Suaranya masih sangat jelas tak sedikitpun bergetar.Gerak tangannyapun tak mengesankan dia sosok yang rentah.

Pandangan matanyapun masih tajam menatap. Kendati tak dipasang kaca mata. Telinga juga sangat jelas mendengar, hingga setiap pertanyaan dijawabnya dengan lugas dan cepat.

“Dari rumah keponakan di Sudimara,”begitu jawabnya ketika ditanya dari mana. ” tidak….tidak diantar..tadi naik angkot ke stasiun, sudah biasa begitu”jawabnya lagi.

Bukan hanya itu sang nenek Aminahpun ingan nama nama gang yang ada di kawasan Palmerah, ketika seorang ibu di sebelahnya juga mengaku sebelumnya tinggal di kawasan Palmerah.

Dan tak sekadar ingat, Nenek Aminahpun tahu asal.usul gang yang disebutkan. Termasuk bangunan yang sempat ada sebelumnya. Sangat luar biasa ingatan sang nenek.

Ketika ditanya mengapa masih bepergian, dia menjawab bosan tinggal di rumah.Lalu apa yang dilakukan, kadang jualan. Jualan baju…jualan tisu. Cari duit..ngak mau minta pada anak..ngak mau ribut..ketika minta duit..duit lagi duit lagi.. ya biar cari sendiri…

Duit untuk apa Nek? Ya ada saja keperluan..untuk makan.
Memang biasanya Nenek makan apa saja hingga masih tetap sehat diusia 93 tahun..singkong dengan ikan asin dibakar..kadang sayur….kadang mie..

Tidak capek Nenek jalan terus..tidak udah biasa…
Anak anak Nenek tahu bahwa nenek meninggalkan rumah….kadang tahu kadang tidak …Nenek berangkat diam diam ketika mereka tidur..
Mereka tidak pernah mencari Nenek…tidak…mereka tahu pasti saya akan pulang…

Belum lagi usai ngobrol sama Nenek Aminah..Commuter telah tiba di Stasiun Palmerah. Tak terasa 25 menit perjalanan Sudimara – Palmerah berakhir.

Nenekpun bergegas berdiri untuk segera turun. Sama lincahnya dengan penumpang yang lain tidak tertatih dan tanpa harus dipegang, dipapah.

Keluar gerbong Nenek memilih menggunakan lift menuju lantai atas, pintu keluar dan aku memilih tangga berjalan. Di atas bertemu lagi, aku amati Nenekpun terkesan sangat biasa menggunakan tiket otomatis ketika keluar. Kartu dia tempelkan pada mesin penghalang, dan warna hijau menyala, sang nenek pun lewat..keluar.

Nenek memilih pintu arah Kompas dan aku pintu DPRRI…tapi perjalan nenek aku amati..dari kejauhan. Tampak nenek berdiri bersama penumpang lain di halte…tak lama ojek pangkalan mendekat..Nenek menawar…dan pergi …mungkin kembali ke rumahnya di kawasan Slipi.