54 Pejabat Baru KLHK Dilantik

253
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melantik sejumlah pejabat baru. Foto : Usman/TROPIS.CO
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melantik sejumlah pejabat baru. Foto : Usman/TROPIS.CO

TROPIS.CO, JAKARTA – Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bambang Hendroyono melantik sebanyak 57 pejabat KLHK di Jakarta, Senin (22/7/2019).

Mereka yang dilantik terdiri dari, seorang pejabat Widyaiswara Ahli Utama, seorang Peneliti Ahli Utama dan 54 pejabat administrator setingkat Eeselon III.

Untuk pejabat Eselon III, ada yang sifatnya pindah posisi sesama Eselon III di dalam satu direktorat serta ada yang pindah ke direktorat lain.

Namun sebagian besar pejabat yang dilantik adalah mereka yang promosi.

Porwantio misalnya, sebelumnya sebagai pejabat Eselon IV di Pusat Keteknikan Sekjen KLHK, dipromosikan ke Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI), di Subdit pencegahan kebakaran hutan.

Sementara Ferry Huston hanya tukar posisi dari Pusat Pelatihan Masyarakat ke Pusat Penyuluhan di BP2SDM.

Sedangkan Leo, yang sebelumnya kepala seksi di Ditjen Penegakan Hukum KLHK, ditugaskan sebagai Kepalai Balai Gakum di Papua yang berkantor pusat di Manokwari.

Dalam pidato pelantikan Sekjen Bambang Hendroyono, yang membacakan sambutan Menteri Siti Nurbaya, mengatakan bahwa urgensi dan relevansi dalam rencana kerja pemerintah 2020 adalah rancangan dan kegiatan LHK yang akan disusun dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan sinergi lintas program dan lintas sektor.

Dan perlu dipahami, kata Bambang Hendroyono, isu strategis sektor LHK yang mengemuka saat ini dan ke depan meliputi pengelolaan lingkungan yang meliputi perhutanan sosial, reforma agraria, keekonomian sumber daya hutan (SDH), dan jasa lingkungan.

Selain itu, perlindungan dan konservasi hutan, perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, serta penguatan tata kelola.

Oleh karena itu perlu dirumuskan agar mencapai pertumbuhan pembangunan yang berkualitas.

Tak kalah penting, terjadinya peningkatan dan percepatan proses pelayanan yang selama ini dianggap menghambat laju investasi di negara ini.

“Kita telah bekerja keras dalam lima tahun ini, namun kerja keras bukanlah kerja dalam kurun waktu jangka pendek saja, tapi harus sustainable,” tutur Bambang Hendroyono.

Menurutnya, kini  Indonesia memasuki musim kemarau yang suhunya cukup ekstrim sebagai dampak El Nino Moderate.

“Ini berarti, kita harus melakukan antisipasi, tak cukup hanya mengandalkan teknologi.”

“Kita mesti bekerja secara holistik yang mengintegrasikan teknologi dan keakuratan fakta hasil tinjauan secara langsung di lapangan,” pungkas Bambang Hendroyono. (*)