Tak Ada Kaitan Deforestasi dengan Kelapa Sawit

Kebijakan RED II – ILUC EU yang mengaitkan isu deforestasi secara berlebihan dan spesifik pada komoditas biofuel khususnya sawit dalam perdagangan internasional dapat dikategorikan sebagai praktek crop apartheid atau perilaku diskriminatif. Foto: TROPIS.CO/Jos
Kebijakan RED II – ILUC EU yang mengaitkan isu deforestasi secara berlebihan dan spesifik pada komoditas biofuel khususnya sawit dalam perdagangan internasional dapat dikategorikan sebagai praktek crop apartheid atau perilaku diskriminatif. Foto: TROPIS.CO/Jos

TROPIS.CO, JAKARTA – Berdasarkan, dari riset dan kajian ilmiah yang dilakukan Prof Dr. Ir Yanto Santosa dari Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), ternyata tidak ada hubungan linear antara deforestasi dengan perluasan kebun sawit.

Penggunaan lahan sebagai sumber daya alam pun, menurutnya, tidak hanya monopoli pengembangan kebun sawit.

Pemanfaatan hutan, misalnya ini juga berlaku hampir di semua komoditas, semua sektor dan semua negara di dunia.

“Karena itu, kebijakan RED II – ILUC EU yang mengaitkan isu deforestasi secara berlebihan dan spesifik pada komoditas biofuel khususnya sawit dalam perdagangan internasional dapat dikategorikan sebagai praktek crop apartheid atau perilaku diskriminatif,” kata Prof Yanto dalam Webinar “The fact of Indonesian Deforestation’s Rate” yang diselenggarakan INAPalmoil Talkshow, Rabu (8/9/2021).

Negara-negara Uni Eropa seharusnya malah berkaca pada Indonesia. Berdasarkan global resources assestment (FAO 2016), tidak satu pun negara-negara Uni Eropa yang termasuk top ten negara yang memiliki hutan primer terluas untuk konservasi biodiversity dunia dan hutan proteksi terluas dunia.

“Indonesia masih termasuk top ten negara yang memiliki hutan primer terluas untuk konservasi biodiversity dunia dan hutan proteksi terluas dunia,”  papar Prof Yanto.