Minggu, 26 Maret 2023

Kualitas Air Sungai dan Danau Cenderung Turun

REKOMENDASI

TROPIS.CO, JAKARTA – Kondisi kualitas air sungai dan danau secara nasional kurang baik dan cenderung terjadi penurunan kualitas air. Ada 16 provinsi mengalami kecenderungan penurunan indeks kualitas sungai.

Fakta itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dalam pidato sambutannya kala membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan pada 26 Februari hingga 1 Maret 2019 di Hotel Shangri-La, Jakarta.

Walau begitu, menurutnya, terdapat perbaikan di Aceh, Jambi, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Maluku.

Lantas Kondisi Tutupan lahan secara nasional berada dalam kecenderungan yang stabil, namun delapan provinsi berada dalam kondisi waspada karena luas tutupan lahannya sedikit yaitu Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa barat, DI Yogyakarta, Banten, dan Bali.

“Penyempurnaan perhitungan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) terus dilakukan termasuk didalamnya menambah titik-titik pemantauan sehingga data pemantuan yang dihasilkan menjadi lebih akurat,” ucap Menteri Siti.

Pada tahun 2015 titik pemantauan kualitas udara hanya mencakup 150 kota, sedangkan tahun 2019 jumah pemantauan mencakup 400 kota dengan jumlah sampel uji mencapai 1.600 sampel uji.

Pada tahun 2019 ini mulai mencoba untuk melakukan pengukuran Indeks Kualitas Air Laut dan mengembangkan Indeks Kerusakan Lahan yaitu Indeks Kerusakan Ekosistem Gambut dari perhitungan sebelumnya yang lebih difokuskan pada media lingkungan yaitu air, udara, dan lahan/hutan.

“IKLH akan terus disempurnakan kualitasnya agar dapat mencapai indeks lingkungan hidup yang ideal dan mendekati kondisi realitas senyatanya di lapangan,” jelas Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan M.R. Karliansyah.

Selama empat tahun ini, KLHK berinovasi untuk memperkuat moral capital dan social capitalmisalnya dengan pembangunan Ekoriparian yang melibatkan masyarakat untuk merestorasi daerah sempadan sungai dengan menjadikan ruang publik sehingga masyarakat malu jika membuang limbah dan sampah di sungai.

Gerakan Bersih Pantai (Coastal Clean Up) yang dimulai pada tahun 2015 telah dilaksanakan di 45 pantai di Indonesia dengan melibatkan tidak kurang dari 25.000 peserta, sertaCar Free Day untuk mengurangi pencemaran udara perkotaan.

Dunia usaha memiliki peran penting dalam mendukung pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan melalui program pemberdayaan masyarakat.

Melalui Program PROPER, dunia usaha berhasil berkontribusi terhadap pencapaian 17 tujuan SDGs melalui 8.474 kegiatan dengan total anggaran Rp38,68 triliun.

Selain upaya perbaikan lingkungan melalui penghematan energi sebesar 273,61 juta Giga Joule, upaya hemat air 306,94 juta m3, tahan emisi konvensional dengan total penurunan emisi sebesar 18,7 juta ton, tahan emisi GRK sebesar 306,94 juta ton CO2e, reduksi dan pemanfaatan limbah B3 dan limbah padat non B3 sebesar 16,34 juta ton dan 6,83 juta ton, serta penurunan beban pencemar air limbah yang mencapai 31,72 juta ton.

“Jika gerakan-gerakan cinta lingkungan ini terus menerus dikembangkan dan digelorakan, maka kesadaran lingkungan akan terinternalisasi di dalam masyarakat sehingga permasalahan lingkungan dapat dihindari.”

“Oleh sebab itu, saya menghimbau seluruh jajaran pemerintah daerah untuk mereplikasi, mengadopsi dan berinovasi untuk mendorong gerakan-gerakan cinta lingkungan ini di daerah masing-masing untuk meningkatkan moral capital dan social capital kita,” pungkas Menteri Siti Nurbaya. (aby)

BERITA TERKAIT

BERITA TERBARU

Ads sidebar

POPULER