Anak Pedagang Batik itu Kini Jadi Rektor IPB

240
Arief Satya, anak pekalongan menjadi Rektor IPB

TROPIS.CO, BOGOR – Di pantai, di Pesisir Pekalongan, 40-an tahun silam. Bocah kecil itu bermain. Saling kejar mengejar. Sekali kali dia rebahkan badannya yang mungil di pasir yang tak terlalu bersih. Bersorak ria tatkala sekujur tubuhnya diterpa ombak menggelombang. Semua senang, bermain bersama anak anak nelayan sembari menunggu sang ayah pulang melaut.

Tiap sore saat pulang ke sekolah. Dan juga tatkala hari libur. Pantai pesisir itu yang menjadi lokasi kumpul bocah bocah. Terkadang ada yang tak berlapis baju, tak beralas kaki. Mereka bersama, dalam kehidupan anak desa di kawasan pesisir.

Hidup bersama tanpa sekat penghalang; anak nelayan, anak pedagang, dan anak penarik becak. Mereka kumpul penuh ceria dalam kehidupan suasana nelayan yang penuh keterbatasan.

Arif Satria, bocah kecil, satu diantara mereka. Anak pedagang batik yang ikut berbaur. Pulang sekolah, bila tidak ikut membantu sang ayah di toko, Arief ada diantara bocah bocah itu.

Tak sekadar bermain, namun ikut membantu tatkala perahu perahu layar nelayan itu, mulai sandar. Tak jarang, pulang ke rumah, Arifpun sama dengan anak anak nelayan lain, menenteng kantong plastik berisikan ikan pemberian nelayan.

Ibunya, di rumah, tak heran. Ini bukan suatu yang asing bagi kebanyakan masyarakat pesisir. Bocah bocah kecil yang selalu di pantai, dan ikut membantu nelayan tatkala sandar, selalu disangoni ikan. Arifpun demikian.

“Sungguh inilah bagian dari kehidupan dan jiwaku, masa kecil yang sangat memotivasi, hingga kini terus tertanam dalam, jiwa anak pesisir yang sangat mewarnai dalam masa 46 tahun kehidupanku,” cerita Arif.

Kini perahu tradisionil berlayar milik nelayan itu, tak lagi tampak. Entah kemana mereka pergi. Semua telah berganti dengan modernisasi. Namun kearifan lokal masih sangat terpatri.

“Ini yang memotivasiku untuk melakukan penelitian di desa, di tanah kelahiranku – yang dulu jadi lokasi tempat aku bermain bersama anak anak nelayan yang kini merekapun kian menuah,” ujarnya.

Hari itu, Jumat, di pertengahan Desember nan silam, bocah Arif mencatat sejarah. Di hadapan ratusan pasang mata, dia menunjukan prestasi anak desa. Tatkala detik detik ucapan kata kata sumpah bergema penuh makna.

Bersumpah sebagai anak bangsa untuk membela negara dan bangsa. Arif Satria dilantik menjadi Rektor IPB, untuk masa jabatan hingga 2022. Dan pelantikan dilakukan dalam sidang paripurna terbuka Majelis Wali Amanat IPB.

Alkisah, di pertengahan November nan silam, Majelis Wali Amanah IPB bersidang. Dalam ruangan tertutup, Muhammad Nasir, M.Si, Ak, Ph.D, CA, Menteri Riset dan Tekologi Pendidikan Tinggi, pun hadir. Dan juga, Dr (Hc) Chairul Tanjung MBA, pun ada di dalamnya.

Konglomerat melayu, pemilik Trans TV, memang tercatat sebagai salah seorang anggota Majelis Wali Amanah IPB, bersama Erick Tohir, pemilik klub Sepak bola dunia, Inter Milan.

Bersama 15 anggota Majelis Wali Amanah lainnya, termasuk Prof Dr. Ir Herry Suhardiyanto, Rektor IPB  selama 10 tahun (2007-2017), dan Dr. Ir Bambang Hendropriyono, Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mereka bermusyawarah serta membahas calon pengganti Herry Suhardiyanto yang 15 Desember 2017, mengakhiri masa amanahnya, sebagai Rektor IPB untuk periode keduanya (2012-2017).

Tersebut 3 calon yang dinyatakan lolos seleksi akhir, kata Ketua Majellis Wali Amanah IPB, Prof. Dr. Ir Muhammad Achmad Chozin, M Agr. Mereka semua memiliki reputasi terbaik. Sebut saja misalnya, Prof Dr Muhammad Yusram Massijaya, dikenal sebagai Ketua Dewan Guru Besar (DGB). Lalu Prof Yonny Koesmaryono, kini Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Dan Dr. Ir Arif Satria, Dekan Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB sejak 2010.

“Setelah menggelar musyawarah secara tertutup bersama 16 anggota dewan MWA, kemudian MWA sepakat menetapkan Dr Arif Satria sebagai Rektor IPB periode 2017 – 2022,” kata Prof. Dr. Muhammad Achmad Chozin.

“Proses pemilihan tadi dilakukan dengan proses musyawarah untuk mufakat, Ini merupakan sesuatu yang baru di IPB, di mana proses ini berjalan dengan baik, di mana semua sepakat untuk menetapkan satu orang dan dengan pandangan yang sama, dan menetapkan satu orang itulah yang terbaik dan layak menjadi Rektor IPB hingga lima tahun ke depan,” lanjut MA Chozin.

Tentu tidak hanya Chozin, tapi juga semua civitas akademi IPB, dan mungkin juga semua masyarakat Indonesia, berharap agar Rektor IPB terpilih menjadi pemimpin akademik yang visoner, berkinerja, dan inklusif, mau melayani semua golongan, serta punya visi yang kuat dalam memimpin. “Bila tidak ada halangan, pelantikan dan serah-terima rektor lama ke rektor yang baru akan dilaksanakan pada 15 Desember 2017,”katanya.

Saat, Jum,at, 15 Desember 2017, sebelum ahzan Jum’at bergema, dalam sidang Majelis Wali Amanah, Arif Satria dikukiuhkan sebagai Rektor IPB . “ Setelah dilantik, saya akan fokus di IPB, tugas dan jabatan lainnya ditunda sementara, biar apa yang saya misikan sejak awal menjadikan IPB ini sebagai perguruan tinggi yang sangat berpengaruh dalam segala bidang, bisa diwujudkan dengan segera,” kata Arif Satria.

Dan memang, bila menelusuri curikulum vitae, Arif bukan tipe orang yang senang diam. Tingkat aktivitasnya setiap hari tergolong tinggi. Di kampus IPB, Arif selain mengajar, juga memegang tanggungjawab sebagai Dekan Fakultas Ekologi Manusia (Fema). Amanah ini sudah dipegangnya sejak tujuh tahun nan silam.

Lalu, terhitung 2012, Arif pun terpaksa harus mondar mandir ke kawasan Monas, Jakarta Pusat. Walau tidak rutin setiap hari, namun harus dilakukannya untuk datang ke Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Ya… sejak 2012 saya diminta menjadi penasehat Ibu Susi, Menteri Kelautan dan Perikanan,” ujarnya.

Untungnya, sejumlah jabatan yang sempat dipegangnya kini sudah berakhir. Misalnya, Sebagai Ketua Umum Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia, Direktur Riset dan Kajian Strategis IPB, Wakil Ketua umum Ikatan Ilmuwan Indonesia International. Dan yang tak lama lagi berakhir, perannya sebagai anggota Dewan Kelautan Indonesia, Periode 2013 – 2017. “Sebagai anggota DKP Desember kemarin selesai, hingga benar benar bisa fokus melaksanakan tugas Rektor,” tandasnya.

“IPB dituntut agar bisa memberikan kontribusi yang maksimal untuk menyelesaikan berbagai persoalan di Indonesia terutama dalam bidang pertanian,” katanya saat sambutan pelantikannya.

Ia menuturkan, persaingan perguruan tinggi semakin ketat, IPB tak hanya dituntut ditingkat lokal tapi juga internasional. Tak hanya itu, IPB juga perlu ikut berkontribusi untuk kemajuan bangsa Indonesia. Sebab, IPB pun memiliki peran penting dalam menggerakan ekonomi dan memperkuat industri nasional.

“IPB akan hadir di tengah para nelayan, petani demi tercapainya kedaulatan pangan, maritim maupun lingkungan,” katanya.

Arif yang juga pernah terlibat dalam penyusunan berbagai kebijakan kelautan dan perikanan sejak 2002 itu pun siap memberikan yang terbaik untuk IPB. Dan sekaligus memberikan kontribusi nyata untuk Indonesia.

“Insya Allah saya akan melaksanakan program lebih baik yang tentunya relevan dengan kebutuhan di masa sekarang, seperti diketahui segala permasalahan saat ini semakin kompleks, maka dari itu IPB harus mampu menjadi solusi untuk menyelesaikannya,” pungkasnya